Sabtu, 30 Agustus 2025

"Memaknai Kemerdekaan Di Masa Kini"

Kita baru saja melewati peringatan hari kemerdekaan negara Republik Indonesia yang ke-80, 17 Agustus 2025 lalu. Masih terasa suasana meriah kegiatan perayaan ulang tahun kemerdekaan bangsa kita. Bendera dan umbul-umbul berkibar di beberapa ruas jalan dan halaman gedung, lampu-lampu hias, pernak-pernik hiasan bernuansa merah putih di rumah-rumah serta jalan-jalan perumahan warga, gapura yang dihias semarak di setiap gerbang dan gang menuju pemukiman warga. Selain itu, berbagai kegiatan dilaksanakan untuk memperingatinya. Mulai dari kegiatan upacara bendera, beragam lomba khas agustusan seperti lomba panjat pinang, lomba balap karung, lomba makan kerupuk dan lain sebagainya. Berbagai acara hiburan pun digelar, mulai dari acara pawai atau karnaval, hingga pentas seni yang diselenggarakan oleh warga di seluruh pelosok negeri ini.

Namun, apakah memperingati kemerdekaan hanya sebatas merayakan dan memeriahkannya dengan acara atau selebrasi yang semarak? Lalu, apa sesungguhnya makna kemerdekaan? Apakah bangsa ini sudah sungguh-sungguh merdeka, atau masih ada yang harus diperjuangkan? Kemerdekaan seperti apa yang telah kita peroleh di masa sekarang ini sebagai pribadi maupun sebagai warga negara? 

Ilustrasi memperingati hari      kemerdekaan. Sumber gambar : Pinterest/afifa art.

Merdeka adalah kebebasan dari segala bentuk tekanan, penindasan, penjajahan dan penguasaan bangsa asing atau pihak luar. Merdeka juga berarti kebebasan dalam memperoleh kedaulatan untuk menentukan nasib sendiri serta membangun identitas diri secara utuh.

"Merdeka" adalah kata yang sering diteriakkan saat memperingati hari kemerdekaan. Itu akan menyalakan kembali api semangat yang diikrarkan para pejuang kemerdekaan di masa lampau sehingga kita sebagai generasi penerus bangsa mampu mempertahankan dan meneruskan perjuangan mereka untuk mewujudkan negara yang sungguh-sungguh berdaulat dan makmur sejahtera, terbebas dari segala bentuk penjajahan dan penindasan.

Bila zaman dahulu, para pahlawan berjuang sekuat tenaga untuk memperoleh kemerdekaan dengan melawan penjajah bangsa asing. Saat ini, setelah kemerdekaan itu diraih, kita sebagai generasi penerus bangsa, bertugas mempertahankan kemerdekaan tersebut dengan cara mengisi kemerdekaan, memajukan negara dan bangsa ini menjadi bangsa yang benar-benar berdaulat, makmur dan sejahtera. Di masa kini, kita memaknai kemerdekaan dengan cara yang berbeda.

Tokoh proklamator, bung Karno, pernah mengungkapkan pesan yang begitu melegenda : "perjuanganku lebih mudah karena mengusir penjajah, tapi perjuanganmu akan lebih sulit karena melawan bangsamu sendiri". Pernyataan tersebut menunjukkan bahwa tantangan dan rintangan kita saat ini lebih besar, karena permasalahan yang kita hadapi berasal dari problematika internal di dalam bangsa ini.

Seperti kutipan yang dinyatakan oleh presiden pertama kita tersebut, telah kita saksikan serta kita alami dan rasakan, berbagai problematika di dalam negeri ini telah menjadi suatu tantangan besar dalam memperjuangkan kemerdekaan yang hakiki sebagai bangsa yang berdaulat, adil, makmur dan sejahtera. 

Kita memang sudah tidak lagi dijajah oleh bangsa lain. Sudah 80 tahun bangsa ini merdeka. Tapi kita sebagai warga negara yang merdeka, belum  sepenuhnya merdeka secara utuh. Masih banyak persoalan bangsa yang mengesampingkan hak warga negara atau rakyat negeri ini untuk terbebas dari belenggu kemiskinan, kondisi ekonomi dan penghidupan yang tidak layak, kualitas pendidikan yang relatif rendah serta biaya pendidikan yang mahal, masih banyaknya perampasan hak asasi manusia oleh oknum aparat hukum, pembungkaman kebebasan berpendapat, keadilan yang tidak memihak rakyat, kesejahteraan yang timpang, penyediaan lapangan pekerjaan yang sempit sehingga menimbulkan tingkat pengangguran yang tinggi, pembangunan infrastruktur yang tidak merata, tingkat kriminalitas yang semakin tinggi dan meresahkan, korupsi yang dilakukan oleh oknum pejabat yang menyebabkan kerugian negara dan merugikan rakyat, juga berbagai persoalan lain yang membutuhkan solusi untuk menjadikan negeri ini aman, tentram, sejahtera dan berdaulat sebagai suatu bangsa yang merdeka secara hakiki.

Ada kejadian ironis di bulan kemerdekaan kali ini. Situasi dan kondisi politis yang merenggut hak asasi rakyat sebagai warga negara yang seharusnya merdeka, telah dinodai oleh tragedi yang memilukan. Rakyat bergerak melawan ketidakadilan dari pemerintah dan para wakil rakyat yang seharusnya menjadi pengayom rakyat, melalui aksi demonstrasi atau unjuk rasa dari berbagai elemen masyarakat. Bahkan aparat keamanan negara yang seharusnya mengamankan dan melindungi rakyat, ternodai oleh anarkisme oknum aparat terhadap para pengunjuk rasa hingga menimbulkan korban jiwa. Peristiwa yang sangat miris. Masa-masa yang seharusnya diliputi kebahagiaan untuk memperingati kemerdekaan, justru tercederai oleh peristiwa yang jauh dari makna merdeka. Kejadian tragis tersebut memunculkan pertanyaan: apakah rakyat di negeri ini sudah sungguh-sungguh merdeka?

Di masa kini, kemerdekaan belum bisa sepenuhnya dimaknai sebagai suatu kebebasan yang berdaulat bagi seluruh rakyat di negeri ini. Masih banyak tugas dan "pekerjaan rumah" yang harus dibenahi dan dicarikan solusi atas berbagai persoalan bangsa dengan cara duduk bersama, berdiskusi dan beraksi bersama dari seluruh warga negara ini, baik pemerintah maupun rakyat, untuk bisa meraih persatuan dan kesatuan bangsa yang berkeadilan sosial. Ini tugas bersama sebagai seluruh generasi penerus bangsa untuk mencapai kedaulatan, kesejahteraan dan kemajuan negara ini.

Ada tanggung jawab besar yang diemban oleh generasi bangsa sekarang ini. Menyelesaikan segala persoalan di dalam negeri ini, memperbaiki segala kesalahan, kerusakan serta ketimpangan yang telah terjadi dan menatanya kembali menjadi bangsa yang merdeka, berkeadilan dan berdaulat secara hakiki dan mengisi kemerdekaan yang telah diperjuangkan oleh para pendahulu bangsa ini dengan cara-cara yang positif dan berdasarkan nilai-nilai yang sesuai dengan asas Pancasila.

Tantangan yang ada tidak hanya berasal dari persoalan-persoalan di dalam negeri ini. Tantangan yang berasal dari luar pun tidak kalah penting untuk kita cermati dan kita sikapi dengan positif dan bijak. Di era globalisasi ini, kemajuan pesat bidang teknologi berpengaruh terhadap masuk dan berbaurnya budaya asing dengan budaya yang kita miliki sebagai warisan dari nenek moyang kita. Selain itu, era digital saat ini yang merambah setiap aspek di seluruh dunia membawa pengaruh yang tidak hanya positif, namun juga menimbulkan dampak negatif yang memunculkan berbagai persoalan bagi generasi yang ada saat ini. Hal tersebut merupakan tantangan yang harus dihadapi oleh bangsa kita dalam menyikapi dampak dari teknologi digital yang sangat berpengaruh terhadap kehidupan berbangsa dan bernegara.

Tantangan  serta rintangan yang berasal dari persoalan di dalam negeri maupun tantangan yang muncul dari luar, mau tak mau harus kita hadapi dan kita selesaikan dengan bijak. Tidak dengan cara mengabaikan, membiarkan, menolak ataupun mempertentangkan. Segala persoalan harus diselesaikan agar tidak mencederai identitas dan kedaulatan negara ini.

Jangan sia-siakan hasil perjuangan para pahlawan dahulu dan jangan biarkan generasi penerus bangsa ini di kemudian hari kehilangan identitas serta kedaulatannya. Sejatinya, tanah air, bangsa dan negara ini adalah warisan para pendahulu kita yang harus selalu kita jaga keberlangsungannya karena ini semua merupakan titipan bagi generasi anak cucu kita kelak.

Mari kita isi kemerdekaan ini, tidak hanya dengan memperingati dan merayakannya, tapi juga dengan memaknai kemerdekaan dengan karya yang positif, memegang, menjaga dan melestarikan nilai-nilai luhur yang telah diwariskan oleh para pendahulu kita di masa lampau  secara bijaksana, berdasarkan asas Pancasila yang telah kita miliki sebagai bangsa yang berdaulat, sehingga bisa diwariskan kembali kepada generasi di masa depan.

Semoga kondisi bangsa yang sedang tidak baik-baik ini masih menyisakan harapan yang akan membawa perubahan ke arah yang lebih baik dan juga menjadi bangsa besar yang kembali dipandang baik di mata dunia internasional.

Tetap semangat untuk berjuang meraih kemerdekaan sejati.









Kamis, 31 Juli 2025

"Menanamkan Nilai Kejujuran, Berawal Dari Lingkungan Keluarga"

Banyak peristiwa maupun kasus yang kita lihat, kita dengar bahkan kita alami di negeri ini yang mengesampingkan ataupun menghilangkan nilai kejujuran. Berucap atau bertindak dengan kejujuran sepertinya sudah merupakan sesuatu yang mahal dan langka dijumpai. Kebohongan, kecurangan dan keculasan sudah menjadi hal biasa dan sering kita hadapi dalam kehidupan sehari-hari. Kebiasaan dan pembiasaan yang buruk memang, tapi begitulah faktanya.

Banyak orang yang sepertinya takut mengutarakan atau mengungkap kebenaran. Disamping itu, seringkali terjadi normalisasi serta pembiaran terhadap kecurangan yang dijumpai dalam berbagai aspek kehidupan sosial di negeri yang konon selama ini sangat menjunjung tinggi moralitas positif. Mengapa hal tersebut bisa terjadi? Semakin langkakah nilai kejujuran saat ini? Apa yang salah dengan sikap menjunjung tinggi nilai kejujuran?

Ilustrasi bersikap jujur (Sumber gambar : Pinterest / Nurul Huda)

Kini, banyak orang yang memegang nilai moral kejujuran dianggap sebagai pahlawan kesiangan, sok alim, sok idealis ataupun dianggap tidak bisa diajak kerjasama atau tidak kooperatif bahkan dianggap berkhianat.

Banyak fenomena sosial dalam masyarakat di negeri ini, orang jujur malah dianggap aneh, dicibir, dikucilkan bahkan dibully oleh pihak-pihak yang mengklaim dirinya sebagai pihak-pihak yang kooperatif dengan sistem kecurangan atau ketidakjujuran. Hal itu dikarenakan melakukan kecurangan sudah dianggap sesuatu yang lumrah, dimaklumkan dan mengakar sebagai suatu kebiasaan dan normalisasi dalam kehidupan sehari-hari. Jika sudah begini, dimana letak kesalahannya? Masih adakah ruang bagi orang-orang yang masih memegang nilai kejujuran?

Banyak fakta yang tidak bisa kita sangkal bahwa saat ini banyak orang yang tidak berani berpendapat, menyuarakan kebenaran karena takut, terintimidasi dan lebih memilih diam untuk mencari aman. Kalaupun berani bersuara akan dianggap melakukan kesalahan, menentang arus ataupun berkhianat.

Dari hal-hal kecil di  lingkungan komunitas sosial dalam kehidupan sehari-hari hingga permasalahan besar dalam skala komunitas bernegara seringkali dijumpai berbagai kecurangan. Anak yang diminta berbohong oleh orangtuanya saat datang penagih utang, siswa yang menyontek saat ujian di sekolah, oknum petugas yang menjalankan pungutan liar saat warga mengurus keperluan administrasi, pedagang yang mencurangi timbangan demi keuntungan lebih dari yang seharusnya, manipulasi data yang dilakukan oleh pegawai perusahaan demi keuntungan pribadi, oknum aparat hukum yang tidak adil dalam menangani suatu kasus hukum, korupsi yang dilakukan oleh oknum pejabat dan hal-hal kecurangan lainnya yang merugikan orang/pihak lain tentunya. Hal-hal tersebut merupakan contoh nyata yang seringkali kita jumpai dalam kehidupan sehari-hari.

Pada kenyataannya, apabila seseorang menyaksikan ketidakjujuran tersebut seringkali membiarkan hal itu terjadi tanpa melakukan peringatan bahkan memaksa diri untuk menjadikannya sesuatu yang "biasa", padahal tahu dan sadar bahwa hal tersebut salah.

Ketidakjujuran, kebohongan ataupun kecurangan secara langsung maupun tidak langsung akan merugikan diri sendiri maupun orang lain. Hilangnya kepercayaan terhadap pelaku kecurangan menyebabkan orang-orang enggan berhadapan serta berurusan kembali dengan orang yang tidak jujur tersebut. Hal itu tentu saja menutup peluang dan kesempatan untuk mengembangkan diri di masa mendatang.

Untuk mengatasi persoalan ketidakjujuran dan kecurangan yang terjadi pada masyarakat bernegara saat ini, akar permasalahannya terletak pada pola edukasi di lingkungan sosial terkecil yaitu keluarga.

Keluarga merupakan lingkungan terkecil dan juga tempat belajar pertama untuk membentuk karakter, sikap dan akhlak seseorang sebelum terjun untuk bersosialisasi di lingkungan sosial yang lebih besar. Apabila di dalam lingkungan keluarga sudah mendapatkan edukasi yang baik, diajarkan, dibiasakan dan pada akhirnya terbiasa untuk bersikap atau berperilaku jujur, maka di lingkungan sosial yang lebih luas, ia akan berbekal kejujuran dalam setiap interaksi yang dilakukannya di lingkungan sosial tersebut. Ia akan merasa bertanggung-jawab atas perilaku dan sikapnya untuk mengemban moral yang telah diperolehnya di dalam lingkungan keluarga.

Seorang anak yang sejak kecil diajarkan serta dididik untuk berkata dan bersikap jujur oleh orang tuanya, akan merasa bersalah bila di lingkungan sekolah atau di dalam pergaulannya melakukan hal yang tidak semestinya, seperti berkata bohong, menyontek, menipu, mengambil atau merebut sesuatu yang bukan miliknya. Saat dewasa ia pun akan terbiasa untuk berkata dan bertindak jujur dalam setiap perilakunya, meskipun dihadapkan pada situasi yang berpeluang untuk melakukan kecurangan.

Mengapa lingkungan keluarga memiliki peran yang sangat penting dalam pembentukan karakter seseorang, dalam hal ini menanamkan nilai moral tentang kejujuran? Karena keluarga merupakan institusi terkecil dalam tatanan sosial yang mampu menanamkan benih nilai moral positif yang akan menumbuhkan karakter seseorang. 

Peran orang tua yang menanam dan menumbuhkembangkan anak-anak dalam lingkungan keluarga yang menjunjung tinggi nilai kejujuran sejak kecil, akan memiliki akar nilai atau norma yang kuat sebagai pegangan bahkan menebar nilai kebaikannya tersebut di lingkungan sosial yang lebih luas. Disamping itu peran orang tua juga harus mampu menjadi role model atau teladan bagi anak-anak dalam penguatan akar nilai dan norma tersebut. Jadi bukan sekedar mengajarkan, tetapi juga menjadi contoh untuk dapat ditiru.

Prinsip yang telah dibangun di dalam lingkungan keluarga inilah yang akan selalu dibawa oleh seseorang dimanapun ia berada, dalam hidup bermasyarakat dan bernegara. 

Orang-orang yang berprinsip dengan berpegang pada akar nilai moral kejujuran inilah yang mampu dan harus memiliki keberanian untuk mengubah sistem nilai yang selama ini dianggap normal, yang sesungguhnya suatu kesalahan.

Demi perubahan baik itu dibutuhkan upaya keras dari para orang tua dalam membangun karakter anak yang harus dimulai dari lingkungan keluarga, dengan cara menanamkan serta menormalisasi nilai kejujuran di setiap saat, dalam segala aspek kehidupan. Jangan ada toleransi bagi ketidakjujuran dan berani untuk jujur, baik dalam berucap maupun dalam bersikap.




Minggu, 26 Januari 2025

"Perlunya Memiliki Sahabat Sebagai Teman Curhat"

Manusia sebagai mahluk sosial tentunya mempunyai kebutuhan untuk berinteraksi dengan manusia lain. Dalam berkehidupan sosial, setiap individu pasti pernah memiliki kawan atau teman sebagai hasil dari interaksinya. Teman adalah seseorang atau beberapa orang yang memiliki makna penting bagi setiap individu, karena dengan memiliki seorang ataupun banyak teman, kita akan merasa bahwa kita tidak hidup sendirian, saling membutuhkan dan saling melengkapi.

Namun, apakah setiap orang yang berteman dengan kita bisa dijadikan sahabat? Belum tentu, karena sahabat memiliki nilai lebih dari sekedar berteman. Sahabat merupakan seseorang atau beberapa orang yang dianggap teman pilihan, yang mempunyai arti dan peran penting dalam circle pertemanan yang kita jalin.

Ilustrasi memiliki sahabat
(Sumber : Pinterest/Chromatikus Cromaticos)

Persahabatan biasanya terjalin tanpa sengaja, terbentuk dengan sendirinya. Bisa karena memiliki cara berpikir yang sama, hobby atau kegemaran yang sama, kesamaan visi tentang memandang hidup, ataupun karena kesamaan karakter atau sefrekuensi dengan kita. Itulah sebabnya, seringkali sahabat dikenal dengan istilah soulmate (teman sejiwa) atau dalam istilah pergaulan kekinian disebut bestie (best friend) yang berarti teman terbaik dalam hidup kita.

Mengapa kita perlu sosok sahabat dalam hidup kita? Seberapa penting peran sahabat dalam menguatkan kondisi psikologis kita?  Perlukah kita menjadikan sahabat sebagai teman curhat?

Seperti halnya tubuh yang membutuhkan asupan makanan dan minuman sehat untuk menambah energi agar bisa beraktifitas dengan kondisi yang sehat, jiwa kita pun membutuhkan sesuatu yang menjadi penguat agar tetap dalam kondisi sehat. Salah satu penguat itu adalah memiliki atau menjalin suatu hubungan dalam ikatan persahabatan.

Memiliki sahabat merupakan salah satu kebutuhan bagi jiwa untuk menciptakan rasa nyaman, bahagia, merasa dipedulikan dan merasa disayangi, tentunya disamping kebutuhan akan pentingnya memiliki keluarga yang harmonis.

Bersama sahabat, kita bisa berbagi perasaan dan pengalaman apapun secara terbuka dan apa adanya, baik suka maupun duka. Dalam ikatan persahabatan, ada suatu komitmen  kejujuran, keterbukaan, saling percaya dan saling pengertian yang dibangun bersama secara tulus. Sahabat adalah orang terdekat yang mampu menerima kelebihan maupun kekurangan kita. Yang terpenting pula, sahabat merupakan orang yang membawa kita ke lingkungan dan kondisi yang baik dan menjadikan kita menjadi pribadi yang lebih baik.

Dalam menjalani kehidupan, kita mengalami berbagai fase atau situasi yang membuat kita gembira, bahagia, sedih, kecewa atau bimbang. Pada saat menghadapi situasi-situasi tersebut, ada kalanya kita tidak bisa berbagi perasaan dengan orangtua ataupun anggota keluarga yang lain karena alasan tertentu. Saat demikian, terkadang kita lebih nyaman apabila berbagi cerita dan berbagi rasa dengan sahabat.

Seperti di kala kita sedang galau dalam menghadapi suatu masalah yang terasa berat apabila kita hadapi sendirian, hadirnya sahabat sangat dibutuhkan untuk menemani, berbagi cerita serta memberikan dukungan moril. Berbagi cerita dengan sahabat, tidak hanya akan meringankan beban batin, tetapi juga membuka sudut pandang baru, bahkan solusi atas persoalan yang sedang kita hadapi. Setidaknya, di saat seperti ini peran sahabat sangat penting untuk menguatkan dan menjadikan kita tegar dalam menghadapi persoalan.

Intinya, sahabat lebih dibutuhkan sebagai teman curhat dikala kita sedang menghadapi suatu masalah, situasi dan kondisi dimana kita sedang tidak baik-baik. Biasanya saat kita sedang galau atau sedih, kita tidak mampu berpikir jernih untuk mengambil suatu keputusan, disaat itulah butuh kehadiran sahabat untuk sekedar curhat atau berbagi cerita tentang situasi yang sedang kita hadapi tersebut. Meskipun kadang teman curhat tidak mampu memberikan solusi secara langsung, setidaknya dengan curhat kepada sahabat, beban batin kita akan terasa ringan dan merasa lega setelah curhat kepada sahabat.

Ilustrasi sahabat sebagai teman curhat (Sumber : Pinterest/Barbara)

Curhat kepada sahabat terlihat seperti hal yang sepele, hanya sharing atau berbagi cerita. Namun bila diperhatikan lebih jauh, curhat dengan sahabat sebagai orang terdekat yang kita percayai, akan memberikan dampak positif bagi kesehatan mental kita. Dengan berbagi curhatan, kita akan mengetahui kondisi yang sedang kita ataupun sahabat kita alami sehingga kita bisa saling melakukan kontrol agar tetap bertahan dalam kondisi yang normal dan tidak melakukan hal-hal menyimpang yang dapat merugikan diri sendiri ataupun orang lain. Misalnya, dengan saling curhat atau sharing dengan sahabat, bisa saling mengingatkan apabila terdapat tanda-tanda atau perilaku yang  menyimpang dalam pergaulan atau masuk ke lingkungan pergaulan yang salah.

Khususnya pada masa remaja yang merupakan fase transisi dari masa kanak-kanak menuju masa dewasa, seringkali dihadapkan pada situasi dengan berbagai problematika sosial sementara kondisi emosional yang cenderung labil, adanya kehadiran sahabat sebagai teman curhat seringkali dibutuhkan. Apalagi bila lingkungan keluarga yang masing-masing terlalu sibuk sehingga tidak memiliki quality time untuk saling berbagi cerita, atau hidup di lingkungan keluarga yang kurang harmonis yang membuat remaja tidak memiliki sosok untuk dijadikan teman berbagi cerita. Bahkan terkadang persoalan di dalam lingkungan keluarga yang justru menjadi pemicu atau penyebab masalah bagi anak atau remaja tersebut. Pada situasi seperti ini, anak yang beranjak remaja atau  masa pra dewasa yang sedang labil tersebut biasanya akan mencari kesenangan di luar rumah bersama teman sebayanya. Dalam hal ini, sangat penting untuk memilih dan memilah siapa saja yang pantas dijadikan teman. Karena bila salah memilih teman dalam bergaul, bisa-bisa remaja tersebut akan terjerumus ke dalam pergaulan yang tidak baik yang memberikan dampak negatif.

Sahabat sebagai teman curhat juga dibutuhkan di saat seseorang dalam keadaan rapuh, frustrasi, depresi dan putus asa. Apalagi bila seseorang merasa sendirian, kesepian dan merasa diabaikan atau tidak dipedulikan. Dalam kondisi seperti itu, tidak jarang kita temui, bila ia menghadapi suatu persoalan, ia akan merasa frustrasi dan panik sehingga terlintas untuk memutuskan mengakhiri hidup secara tidak wajar. Hal ini tentu saja sangat berbahaya. Untuk itu, kehadiran sahabat yang bisa memahami kondisinya akan sangat dibutuhkan. Apabila ada sahabat yang menemani atau mendampinginya, maka rasa frustrasi dan keputusasaan yang ia rasakan dapat diredam dengan cara curhat atau berbagi cerita tentang masalah yang dihadapinya sehingga ia terhindar dari pikiran negatif untuk mengakhiri hidupnya dikarenakan ia tidak merasa sendirian dalam menghadapi persoalan yang tengah ia alami tersebut. Bahkan, bukan tidak mungkin dengan curhat dan bertukar pikiran atau beradu pandangan, bisa menemukan solusi untuk mengatasi persoalan yang sedang dihadapinya.

Rasa kesepian, frustrasi atau merasa tidak dipedulikan juga bisa saja memicu perbuatan negatif lain yang merugikan diri sendiri, yang akhirnya bukan tidak mungkin bertindak negatif yang merugikan orang lain.
Masuk ke lingkungan pergaulan yang negatif, di saat kondisi jiwa sedang rapuh, akan membawa pengaruh negatif, seperti menyebabkan terjerumusnya seseorang ke dalam jeratan pemakaian obat-obatan terlarang/narkotika atau pergaulan  bebas yang tak terkendali. Hal-hal tersebut akan terhindar apabila memiliki sahabat baik yang mengingatkan, mencegah atau menghindarkan dari hal-hal yang menjerumuskannya.

Persahabatan yang tulus akan memberikan pengaruh yang baik pula dalam kehidupan kita. Apabila orang yang kita anggap sebagai kawan atau teman menyebabkan kita terjerumus ke dalam pergaulan yang salah atau membiarkan kita melakukan suatu penyimpangan, maka itu tidak layak disebut sahabat. Karena sejatinya, sahabat tidak hanya membuat kita nyaman, tapi juga sosok yang bisa membuat kehidupan kita berjalan dengan baik di dalam lingkungan yang baik dan selalu mengingatkan ataupun menyadarkan kita di saat kita hendak melakukan kesalahan atau penyimpangan. 

Dengan demikian, kehadiran sahabat sejati dalam kehidupan kita dapat memberi  pengaruh positif terhadap kondisi kesehatan batin atau jiwa kita. Maka jadilah seseorang yang berperan positif untuk sahabat kita dan selalu jaga dan jangan sia-siakan persahabatan yang telah kita miliki selama ini. Karena seperti pepatah yang mengatakan bahwa "memiliki seorang sahabat yang menemani dan menolong kita saat terpuruk jauh lebih berharga daripada memiliki seratus teman yang hanya bertepuk tangan dan memberikan pujian saat kita berjaya".


Minggu, 29 Desember 2024

"Tahun Baru Sebagai Momen Refleksi Diri'

Penghujung tahun tinggal beberapa saat. Dalam hitungan jam, kita akan melewati akhir tahun ini dan tahun baru akan segera kita hadapi. Banyak orang menyambut datangnya tahun baru dengan merayakan malam pergantian tahun tersebut bersama keluarga, kerabat atau teman-teman. Ada yang menyambutnya dengan bertamasya mengunjungi tempat-tempat wisata, maupun ke gunung atau pantai, ada yang berjalan-jalan dan berkumpul di tempat keramaian seperti di pusat kota, ada pula yang sekedar berkumpul bersama keluarga atau teman sambil mengadakan acara makan-makan atau barbekyu-an serta acara hiburan sebagai pelengkap kemeriahan menyambut datangnya tahun yang baru. Berbagai keseruan serta kemeriahan di malam akhir tahun dimeriahkan di berbagai tempat. 

Namun, apakah menyambut datangnya tahun yang baru harus selalu diisi dengan berbagai kemeriahan? Apa makna dari berakhirnya tahun yang sekarang akan segera kita lewati dan datangnya tahun yang akan kita jalani berikutnya? Bagaimana kita menyikapi kehadiran tahun baru dengan lebih memahami makna sejati dari pergantian tahun tersebut?

Tidak mengapa apabila kita menyambut tahun yang baru dengan berkumpul dengan orang-orang terdekat yang kita sayangi. Barangkali salah satu alasan yang bisa dipahami secara positif adalah bahwa waktu pergantian tahun merupakan momen untuk mempererat tali persaudaraan atau pun pertemanan dengan mengadakan aktifitas berkumpul bersama-sama setelah beberapa waktu tidak bertemu sambil berbagi kegembiraan bersama. Namun ada baiknya pula apabila kita menyikapi dan memahami esensi waktu pergantian tahun tersebut secara lebih bijak, dengan menjadikan pergantian tahun itu sebagai momen yang tepat untuk melakukan refleksi terhadap diri sendiri.

 
  Ilustrasi refleksi diri (Sumber       gambar : Pinterest / Veil Vibe       Canvas)

Refleksi diri merupakan suatu cara untuk merenungkan kembali apa yang telah terjadi dan apa saja yang telah dilakukan, setidaknya selama setahun ini, sebagai bahan introspeksi dan mengevaluasi diri untuk menjadikan hidup kita lebih baik di tahun mendatang.

Dengan melakukan perenungan secara mendalam, kita dapat melihat seberapa besar pencapaian kita mengenai segala proses yang kita jalani. Dalam perenungan tersebut juga kita dapat menyadari kekurangan, kegagalan, kesalahan atau ketidakpuasan tentang segala hal yang telah kita kerjakan atau lakukan selama setahun ini. Apabila hal-hal tersebut kita sadari, kita renungkan, kita evaluasi, maka diharapkan segala kekurangan maupun keberhasilan yang belum tercapai dalam setahun ini, akan dapat diperbaiki atau diperbarui di tahun mendatang.

Selain hal itu, berbagai kejadian atau peristiwa serta perasaan yang kita alami dan rasakan dalam setahun ini, bisa kita kilas balik dalam refleksi yang kita lakukan terhadap diri sendiri. Apakah itu peristiwa yang membuat kita senang, bahagia, sedih, kecewa, sakit dan momen-momen mengenai keberhasilan atau pun kegagalan yang kita alami akan terekam dalam refleksi yang kita lakukan. Semua yang  terekam dan kemudian kita renungkan akan menjadi penilaian terhadap diri sendiri untuk lebih berupaya memperbaiki diri di tahun mendatang agar diri kita dan kehidupan kita menjadi lebih baik. Kesalahan maupun kegagalan yang telah terjadi menjadikan pelajaran yang berharga untuk berproses secara lebih baik agar tidak mengulang kesalahan di masa mendatang.

Dengan melakukan refleksi diri, yang kemudian memunculkan tekad untuk memperbaiki diri, akan membangkitkan rasa optimis untuk membangun kehidupan yang lebih baik di masa depan.

Yang terpenting dari refleksi diri di momen pergantian tahun ini akan melahirkan semangat baru untuk melakukan perbaikan diri serta tindakan nyata yang lebih baik daripada tahun-tahun sebelumnya.

Akan lebih bermakna apabila malam pergantian tahun ini tidak sekedar merayakan, memeriahkan atau menyambutnya dengan aktifitas yang gegap-gempita tanpa manfaat yang berarti, namun diisi dengan melakukan refleksi diri yang bermanfaat positif demi kehidupan yang lebih baik juga bermakna yang akan kita hadapi dan kita jalani di tahun mendatang.

Semoga refleksi diri yang kita lakukan di penghujung tahun ini akan membawa perubahan yang lebih baik di tahun depan. Semangat!


Sabtu, 30 November 2024

"Menerapkan Filsafat Stoicisme Dalam Kehidupan Sehari-hari"

Filsafat seringkali dikonotasikan sebagai konsep rumit, abstrak, njelimet sehingga agak sulit dipahami oleh kalangan awam, bahkan untuk diterapkan dalam kehidupan sehari-hari. Namun filsafat stoicisme atau dikenal juga sebagai filosofi teras, mengenalkan konsep filosofi yang bersifat praktis sehingga bisa diterapkan dalam kehidupan sehari-hari.

      Ilustrasi filsafat stoicisme 
(Sumber : Pinterest / Stoic Walls)

Stoicisme menawarkan cara-cara untuk mengembangkan sikap mental yang lebih tangguh agar bisa tetap tenang menghadapi terpaan hidup.

Inti dari ajaran stoicisme adalah adanya dikotomi kendali, dalam arti ada hal-hal yang bisa kita kontrol/kendalikan (internal) seperti pikiran atau persepsi dan tindakan kita sendiri dan ada hal-hal yang tidak bisa kita kontrol/kendalikan (eksternal) seperti situasi yang ada di luar kendali kita, kondisi cuaca, opini atau emosi orang lain. 

Stoicisme lebih menekankan pada cara pengendalian diri terhadap situasi yang berada di luar kendali kita. Filosofi teras ini merupakan cara tentang bagaimana mengendalikan emosi negatif atas situasi yang tidak sesuai dengan kehendak kita, tidak mengenakkan, tidak membuat kita nyaman menjadi suasana yang dibuat nyaman oleh pengendalian diri kita sendiri dengan pikiran dan persepsi yang kita bangun sendiri.

Mengapa ajaran filsafat kuno ini perlu diterapkan di masa serba modern seperti saat ini?
Seberapa penting stoicisme bisa diterapkan di situasi pada masa kini dalam kehidupan sehari-hari?

Untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan tersebut, mari kita bahas bagaimana ajaran stoicisme bisa dan perlu kita terapkan di kehidupan saat ini.

Di dalam hidup, seringkali kita dihadapkan pada situasi di luar kendali kita, seperti adanya musibah, cuaca ekstrem yang membuat tidak nyaman dalam melakukan aktifitas, kondisi ekonomi yang tidak menentu, kesulitan atau kegagalan yang tidak kita harapkan, pekerjaan yang tidak memuaskan, masalah yang membuat kita stress dan panik dalam menghadapinya, situasi yang menghambat atau menghalangi aktifitas kita, atau juga dihadapkan dengan orang-orang yang menyebalkan, mengganggu bahkan merugikan kita juga orang-orang lain. 

Di masa kini, kita dihadapkan pada situasi dengan berbagai persoalan sosial yang kompleks yang seringkali membuat kita terganggu atau tidak nyaman, seperti kemacetan di jalanan, suasana bising kendaraan yang memekikkan telinga, pengendara yang ugal-ugalan, orang yang berkelakuan seenaknya di kendaraan umum ataupun fasilitas umum lainnya, atasan yang arogan di tempat kerja, rekan kerja yang bersaing secara tidak sehat, teman satu sekolah yang selalu mengganggu, kerabat atau tetangga yang selalu ikut campur urusan pribadi kita, bertemu dengan orang-orang toxic dan lain sebagainya.

Apalagi di era yang serba digital ini, tidak jarang kita memperhatikan tulisan atau kata-kata, gambar, foto, video di media sosial yang memperlihatkan ketidaknyamanan, seperti ada orang yang sering pamer kekayaan atau pamer kemesraan di media sosial yang membuat risih, adanya ujaran kebencian, saling ejek, saling hina, saling hujat diantara pengguna media sosial ataupun adanya bullying yang diperlihatkan di media sosial tersebut.

Situasi dan kondisi yang tidak sesuai dengan keinginan atau kehendak kita, kadang membuat kita kecewa, sedih, marah, frustrasi atau tidak nyaman. Dalam situasi seperti itulah kita dituntut untuk berpikir dan bersikap tenang dan menyadari bahwa itu merupakan hal yang berada di luar kendali kita. Kita tidak dapat mengatur ataupun merubah situasi eksternal sesuai kehendak kita. Yang harus kita lakukan adalah meredam, mengendalikan emosi negatif yang kita rasakan terhadap situasi yang tidak bisa kita kendalikan tersebut berdasarkan pikiran atau persepsi yang kita bangun.

Dengan menerapkan stoicisme, menyadari bahwa kita hanya bisa mengendalikan apapun yang sanggup kita kendalikan, daripada kita mengeluh, mengecam atau marah terhadap masalah maupun situasi yang tidak mengenakkan kita, alangkah lebih baik kita membiarkannya, tidak terpancing secara emosional dan tetap fokus pada tujuan kita. Karena dengan mengikuti emosi negatif malah akan memperburuk keadaan. 

Dengan menerapkan prinsip dalam ajaran stoicisme itu juga, kita akan merasa lebih tenang menghadapinya dan sebisa mungkin membuat diri kita tetap merasa nyaman di tengah situasi ataupun persoalan yang sedang kita hadapi. Dalam istilah kekinian yang seringkali kita dengar, kita perlu untuk tetap menjaga kewarasan dengan tidak ambil pusing hal-hal yang tidak mampu kita kendalikan agar terhindar dari stress atau depresi.

Jadi prinsip utama yang penting dalam menerapkan stoicisme dalam kehidupan sehari-hari adalah dengan sadar diri dan memfokuskan diri bahwa ada sesuatu hal di luar diri kita yang tidak bisa kita kendalikan dan berpikir dengan nalar bahwa kita mampu mengendalikan pikiran, persepsi juga perasaan atau emosi kita terhadap situasi eksternal tersebut.

Dalam konsep stoicisme, bahagia itu sederhananya adalah terhindar dari segala hal yang membuat kita terganggu. Bahagia itu tergantung pada bagaimana kita berpikir dan menyikapi situasi yang kita hadapi dan tidak mengingini sesuatu yang di luar kendali diri kita.



Sumber pustaka:
Henry Manampiring, "Filosofi Teras : Filsafat Yunani - Romawi Kuno Untuk Mental Tangguh Masa Kini"

Sumber gambar:
Pinterest, Stoic Walls



Rabu, 30 Oktober 2024

"Salahkah Menjadi Seorang Introvert?"

Seseorang yang memiliki kepribadian introvert sering dipandang sebagai orang yang pendiam, pemalu, tertutup, penyendiri atau tidak mau bergaul. Bahkan tidak jarang dianggap anti sosial. Padahal introvert dan anti sosial sangatlah berbeda.

Dikarenakan karakternya yang unik, orang berkepribadian introvert sering dianggap aneh. Bahkan tidak jarang, keunikannya tersebut dijadikan bahan ejekan hingga obyek perundungan. 

Ilustrasi orang introvert (Sumber : Pinterest / Kingston Carol)

Sebelum membahas lebih jauh tentang uniknya kepribadian introvert, mari kita terlebih dahulu mengenal perbedaan introvert dengan anti sosial, agar tidak salah memahami.

Introvert merupakan salah satu tipe kepribadian sedangkan anti sosial merupakan salah satu penyakit mental, penyimpangan atau gangguan kepribadian yang sering disebut sebagai anti social personality disorder (ASPD). 

Introvert merupakan tipe kepribadian yang memperoleh energinya apabila sedang sendirian. Ia akan merasa mudah lelah ketika berada di keramaian. Bukan berarti dia anti terhadap hubungan sosial atau pun interaksi sosial dengan orang lain, tetapi ia merasa lebih nyaman ketika sendiri dan membutuhkan waktu sendiri untuk memulihkan energi yang terkuras setelah berada di keramaian.

Sedangkan orang yang anti sosial adalah orang yang memiliki penyimpangan atau gangguan kepribadian yang tidak suka melihat orang lain ataupun situasi yang bagi orang-orang secara umum dinilai baik. Apabila ia berinteraksi atau menjalin hubungan sosial dengan orang lain, ia membangun hubungan tersebut berlandaskan kepentingan tertentu, bukan dengan keterikatan yang tulus. Ia cenderung bertindak merugikan bahkan membahayakan diri sendiri maupun orang lain.

Dalam hal menjalin hubungan sosial, seorang introvert sangat menghargai hubungan sosial yang dibangunnya, terutama dengan orang-orang terdekatnya. Meskipun circle pergaulannya relatif kecil, namun ia berusaha untuk membangun hubungan sosialnya secara berkualitas dan memiliki perhatian serta kepedulian yang tinggi terhadap orang-orang terdekatnya yang membuatnya nyaman.

Sedangkan seseorang yang anti sosial mempunyai pandangan negatif terhadap hubungan sosial. Ia menganggap bahwa membangun hubungan sosial itu tidak berguna, merasa dapat melakukan segala sesuatu seorang diri dan tidak menyukai orang lain, bahkan seringkali merugikan banyak orang.
Saat berinteraksi dengan banyak orang, ia mempunyai alasan atau kepentingan tertentu. Ia berpura-pura baik kepada orang lain yang ditemuinya padahal sebenarnya tidak peduli bahkan tidak memiliki rasa empati terhadap orang lain. Ia cenderung bersikap manipulatif dan seringkali melanggar norma ataupun hak orang lain tanpa rasa menyesal.

Setelah memahami tentang anti sosial, jangan samakan lagi dengan introvert yaa, karena itu merupakan dua hal yang jelas sangat berbeda.

Sekarang, mari kita kembali ke topik awal, yaitu apakah salah bila seseorang itu memiliki kepribadian introvert, sampai dianggap aneh bahkan dibully?
Yuk, kita pahami lebih jauh siapa dan bagaimana sih sang introvert yang unik itu.

Berseberangan dengan orang-orang berkepribadian ekstrovert yang memperoleh energi dari stimulus dunia luar, orang dengan kepribadian introvert mendapatkan energi saat sedang sendirian. Seperti telah disinggung sebelumnya, bagi introvert terlalu banyak menerima stimulus dari dunia luar membuatnya mudah lelah dan ia membutuhkan waktu sendirian untuk recharge energi, seperti yang ditulis oleh Dr. Jennifer Kahnweiler dalam "The Introverted Leader Building On Your Quiet Strength". Jadi sekarang sudah paham alasannya ya, mengapa introvert itu suka menyendiri.

Selain ciri khas yang melekat pada diri seorang introvert tersebut, ada ciri lain yang membedakannya dari orang-orang ekstrovert, antara lain:
• lebih suka belajar dengan cara mengamati tentang apapun, apalagi hal-hal yang menarik baginya
me time merupakan suatu hal yang membahagiakan dan juga merupakan saat untuk memperoleh ide dan mengembangkan potensi serta kreatifitasnya
• lebih suka menjadi penyimak dan pendengar yang baik daripada banyak berbicara
• tidak suka menjadi pusat perhatian, ia lebih nyaman bila bekerja di belakang layar dan tidak ingin terlihat paling menonjol
• berhati-hati saat berbicara, biasanya cenderung banyak berpikir dan pertimbangan sebelum berbicara di depan forum ataupun kepada orang-orang yang baru dikenalnya
• suka membaca buku, baik buku-buku yang menambah wawasan pengetahuannya maupun sekedar hiburan di saat-saat me time nya
• biasanya suka memelihara hewan peliharaan dan memperlakukannya sebagai teman ataupun bagian dalam hidupnya
• bila sedang berada di tengah circle-nya atau orang-orang terdekatnya yang membuatnya nyaman, seperti keluarga atau sahabatnya, meski terkesan pendiam, ia akan bersikap terbuka atau bebas mengekspresikan perasaannya layaknya seorang ekstrovert.

Melihat ciri-ciri yang nampak unik tersebut, banyak hal menarik dari seorang introvert. Ada energi positif pada diri introvert bagi orang-orang (circle) di sekitarnya. Dengan kesendiriannya ia juga bisa mengembangkan potensi diri yang bermanfaat untuk dirinya maupun orang lain. 

Dengan memahami tentang bagaimana kepribadian introvert, sesungguhnya orang-orang yang berkepribadian introvert ini menarik dan menyenangkan sebagai teman bergaul, berdiskusi bahkan bersahabat bila sudah mengenalnya lebih dalam dan berteman dengan seorang introvert akan merasakan kenyamanan tersendiri. 

Seperti pepatah mengatakan bahwa "tak kenal maka tak sayang", maka kenalilah terlebih dahulu temanmu yang berkepribadian introvert sebelum melakukan bullying atau perundungan terhadapnya. Apabila ada orang-orang yang melakukan perundungan terhadap seseorang dikarenakan ia introvert sebenarnya sungguh tidak beralasan. Dapat terlihat pula bahwa itu berarti yang bermasalah dalam perilaku serta kepribadiannya adalah pelaku perundungan tersebut, bukan?

Setelah kita paham mengenai introvert, maka jawaban atas pertanyaan yang merupakan judul tulisan ini adalah "menjadi seorang introvert itu sama sekali bukan suatu kesalahan" karena  introvert merupakan salah satu tipe kepribadian dengan karakteristik khas sedemikian rupa. Begitu pula halnya dengan orang bertipe ekstrovert yang tentunya juga memiliki karakteristik khas yang memang demikian adanya. Untuk itu, tidak ada salahnya bagi para ekstrovert maupun ambivert dapat memahami perbedaan yang dimiliki oleh seseorang berkepribadian introvert, karena pada hakikatnya manusia tercipta dengan beragam karakter yang masing-masing memiliki kelebihan juga kekurangan.

Bagi teman-teman yang merasa memiliki ciri kepribadian introvert, yuk cintai diri, kembangkan potensi yang dimiliki dan tunjukkan pada dunia bahwa seorang introvert itu punya kelebihan dan kekuatan tersendiri, punya energi positif yang bermanfaat buat banyak orang dan mampu menjadi hebat.


Sumber artikel :
• IDNTimes / Marliana Kuswanti
• Halodoc.com / Dr. Jennifer Kahnweiler, "The Introverted Leader Building On Your Quiet Strength"

Sumber gambar :
• Pinterest / Kingston Carol

Senin, 30 September 2024

"Pentingnya Quality Time Bersama Anak"

Kondisi kehidupan sosial ekonomi saat ini mengharuskan banyak orangtua menghabiskan sebagian besar waktunya untuk bekerja di luar rumah, sehingga para orangtua kehilangan momen membersamai tumbuh kembang anak-anak mereka, khususnya bagi seorang ibu.

Ilustrasi quality time ibu dan anak (sumber : Pinterest / Tara Hakari)

Dalam sebuah keluarga, peran ibu sangatlah penting bagi pertumbuhan dan perkembangan fisik maupun mental anak. Perhatian, kepedulian, rasa sayang, rasa aman, rasa nyaman dan pentingnya pola asuh serta pola didik dari orangtua sangat dibutuhkan oleh anak. Hal-hal tersebut seringkali terabaikan oleh orangtua karena kesibukannya bekerja.

Terkadang, bukan ketidakpedulian yang menjadi alasan orangtua tidak mendampingi anaknya, namun banyaknya waktu yang tersita untuk bekerja dan kelelahan fisik maupun pikiran setelah bekerja, menyebabkan waktu untuk anak semakin terhabiskan.

Meskipun tubuh dan pikiran terasa lelah, orangtua tetap harus menjalankan perannya sebagai orangtua bagi anak-anaknya. Untuk itu, sangat penting untuk meluangkan waktu di sela-sela kesibukannya, dikhususkan pada waktu yang berkualitas buat anak-anak, yang dikenal dengan istilah "quality time", waktu yang relatif sedikit namun sarat makna.

Mengapa quality time sangat penting bagi anak?
Secara naluriah, anak membutuhkan orangtua sebagai tempat berlindung, tempat berbagi perasaan yang dianggapnya paling aman dan nyaman, juga sebagai role mode atau teladan yang dapat ditiru oleh anak. Hal-hal tersebut sangat berpengaruh pada kesehatan dan kestabilan emosi dan mental anak. Apalagi jika mempunyai anak di usia sekolah, bahkan saat beranjak remaja, yang secara emosional kondisi mentalnya seringkali tidak stabil karena berada di fase transisi dari masa kanak-kanak menuju dewasa.

Pada saat-saat tertentu anak butuh waktu sendiri untuk mencari jati dirinya dan ada saatnya anak butuh sosok pelindung, pengayom sekaligus teman atau sahabat yang bisa menerima dia apa adanya, memahami ketidakstabilan emosinya, mengerti tentang perasaannya ataupun segala pengalaman yang dihadapinya dan seseorang yang bersedia mendengarkan segala keluhan dan masalah yang dia rasakan atau alami. Di lingkungan keluarga, orangtualah yang sepatutnya bisa memenuhi hak anak dalam situasi dan kondisi tersebut.

Dalam suasana yang disebut sebagai quality time bagi anak bersama orangtua, terutama bersama ibu sebagai orang terdekat bagi mereka dalam keluarga, jika sang ibu bisa membawa anak-anak dalam kenyamanan, mereka akan merasa dirinya dihargai, diperhatikan, dipedulikan serta dimengerti oleh orangtuanya. Hal tersebut sangat penting dan sangat dibutuhkan oleh anak. Untuk itu, sebagai orangtua harus memiliki kepekaan, kepedulian serta kebijaksanaan untuk bersedia menjadi "sahabat" bagi anak.

Mengapa hal itu bisa didapatkan dan diwujudkan pada saat quality time?
Karena pada waktu berkumpul bersama, meskipun intensitas waktu yang dimiliki hanya sedikit, akan membangun kedekatan serta keakraban yang mempererat hubungan antara orangtua dengan anak. Pada situasi tersebut, saat anak merasa nyaman dengan orangtua, anak akan terbuka dan dengan senang hati bercerita apapun yang dirasakan dan dialaminya. Orangtua sekedar mendengar, menyimak dan memahami apa yang mereka rasakan pun, tentu saja tanpa menyela, sudah cukup membuat mereka nyaman, merasa didengar, merasa dimengerti dan merasa dihargai, dan yang terpenting, mereka memiliki teman atau sahabat terbaik yang sungguh bisa mereka percayai atas segala keterbukaan mereka.

Dalam momen itu pun, orangtua sekaligus bisa memberikan wawasan pengetahuan juga persepsi atau edukasi tentang banyak hal dalam rangka pembentukan kepribadian dan mental anak dalam mempersiapkan situasi dan kondisi di lingkungan sosial di luar rumah pada saat tidak didampingi atau dibersamai orangtuanya.

Apa dampak positif bagi anak apabila merasa akrab dengan orangtua yang dibangun dalam quality time?
Kedekatan, keakraban dan kenyamanan yang diperoleh anak dari orangtuanya karena seringkali berbagi perasaan dan pengalaman yang diungkapkan pada saat quality time, menyebabkan anak memiliki sahabat sejatinya di dalam keluarganya sendiri. Dengan demikian, anak akan merasa "cukup orangtuaku yang paham tentang aku", tidak perlu mengumbar cerita, keluhan, kesulitan dan masalahnya kepada sembarang orang. Selain itu, apabila anak menghadapi kesulitan atau masalah di luar rumah, dia akan langsung menemui dan meraih orangtuanya, bukan lari dan berkeluh kesah mengadukan masalahnya kepada orang lain, yang seringkali bukannya memberi solusi, melainkan malah menambah keruh masalah karena ketidakpahaman mereka.

Selain itu, keakraban dengan anak, dapat memberikan pengaruh positif bagi anak dalam hal pembentukan kepribadian dan mental anak di lingkungan sosial yang lebih luas. Dengan kenyamanan yang diperoleh di dalam lingkungan keluarga, anak akan lebih siap menghadapi berbagai persoalan pada lingkungan sosial yang ditemuinya, terutama pada saat orangtua tidak bisa mendampingi atau menemani anak di kesehariannya karena kesibukan orangtuanya.

Pola asuh dan edukasi yang diberikan orangtua kepada anak-anak mereka pada saat quality time, meskipun pada waktu yang relatif singkat namun menanamkan nilai-nilai kebersamaan yang berkualitas akan menjadi bekal bagi anak-anak untuk menjadi anak yang memiliki mental yang kuat dan tangguh di lingkungan sosial yang lebih luas. Bukan saja untuk kehidupan di masa kini, tetapi juga mempersiapkan mental mereka saat dewasa kelak agar tidak menjadi pribadi yang lemah dan manja.

Dari kedekatan emosional yang dibangun pada saat quality time, orangtua tidak hanya akan lebih mengenal dan memahami anak-anaknya, tapi juga bisa sekaligus menerapkan edukasi, norma serta nilai-nilai etika yang diperlukan bagi anak sebagai bekal di kehidupannya. Dengan persiapan dan kesiapan yang diperoleh anak dalam keluarga, orangtua akan merasa tenang mengamati tumbuh kembang anak meskipun tidak secara langsung mengawasi dan mendampingi mereka karena kesibukan orangtua. 

Sesibuk apapun para orangtua, tetaplah luangkan waktu yang walaupun sedikit namun berkualitas untuk membersamai anak-anak kita. Karena dari waktu yang berkualitas diharapkan mampu menciptakan anak-anak yang berkualitas, baik dalam hal kecerdasan secara kognitif maupun secara emosional.