(Sumber : Pinterest / Stoic Walls)
Stoicisme menawarkan cara-cara untuk mengembangkan sikap mental yang lebih tangguh agar bisa tetap tenang menghadapi terpaan hidup.
Inti dari ajaran stoicisme adalah adanya dikotomi kendali, dalam arti ada hal-hal yang bisa kita kontrol/kendalikan (internal) seperti pikiran atau persepsi dan tindakan kita sendiri dan ada hal-hal yang tidak bisa kita kontrol/kendalikan (eksternal) seperti situasi yang ada di luar kendali kita, kondisi cuaca, opini atau emosi orang lain.
Stoicisme lebih menekankan pada cara pengendalian diri terhadap situasi yang berada di luar kendali kita. Filosofi teras ini merupakan cara tentang bagaimana mengendalikan emosi negatif atas situasi yang tidak sesuai dengan kehendak kita, tidak mengenakkan, tidak membuat kita nyaman menjadi suasana yang dibuat nyaman oleh pengendalian diri kita sendiri dengan pikiran dan persepsi yang kita bangun sendiri.
Mengapa ajaran filsafat kuno ini perlu diterapkan di masa serba modern seperti saat ini?
Seberapa penting stoicisme bisa diterapkan di situasi pada masa kini dalam kehidupan sehari-hari?
Untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan tersebut, mari kita bahas bagaimana ajaran stoicisme bisa dan perlu kita terapkan di kehidupan saat ini.
Di dalam hidup, seringkali kita dihadapkan pada situasi di luar kendali kita, seperti adanya musibah, cuaca ekstrem yang membuat tidak nyaman dalam melakukan aktifitas, kondisi ekonomi yang tidak menentu, kesulitan atau kegagalan yang tidak kita harapkan, pekerjaan yang tidak memuaskan, masalah yang membuat kita stress dan panik dalam menghadapinya, situasi yang menghambat atau menghalangi aktifitas kita, atau juga dihadapkan dengan orang-orang yang menyebalkan, mengganggu bahkan merugikan kita juga orang-orang lain.
Di masa kini, kita dihadapkan pada situasi dengan berbagai persoalan sosial yang kompleks yang seringkali membuat kita terganggu atau tidak nyaman, seperti kemacetan di jalanan, suasana bising kendaraan yang memekikkan telinga, pengendara yang ugal-ugalan, orang yang berkelakuan seenaknya di kendaraan umum ataupun fasilitas umum lainnya, atasan yang arogan di tempat kerja, rekan kerja yang bersaing secara tidak sehat, teman satu sekolah yang selalu mengganggu, kerabat atau tetangga yang selalu ikut campur urusan pribadi kita, bertemu dengan orang-orang toxic dan lain sebagainya.
Apalagi di era yang serba digital ini, tidak jarang kita memperhatikan tulisan atau kata-kata, gambar, foto, video di media sosial yang memperlihatkan ketidaknyamanan, seperti ada orang yang sering pamer kekayaan atau pamer kemesraan di media sosial yang membuat risih, adanya ujaran kebencian, saling ejek, saling hina, saling hujat diantara pengguna media sosial ataupun adanya bullying yang diperlihatkan di media sosial tersebut.
Situasi dan kondisi yang tidak sesuai dengan keinginan atau kehendak kita, kadang membuat kita kecewa, sedih, marah, frustrasi atau tidak nyaman. Dalam situasi seperti itulah kita dituntut untuk berpikir dan bersikap tenang dan menyadari bahwa itu merupakan hal yang berada di luar kendali kita. Kita tidak dapat mengatur ataupun merubah situasi eksternal sesuai kehendak kita. Yang harus kita lakukan adalah meredam, mengendalikan emosi negatif yang kita rasakan terhadap situasi yang tidak bisa kita kendalikan tersebut berdasarkan pikiran atau persepsi yang kita bangun.
Dengan menerapkan stoicisme, menyadari bahwa kita hanya bisa mengendalikan apapun yang sanggup kita kendalikan, daripada kita mengeluh, mengecam atau marah terhadap masalah maupun situasi yang tidak mengenakkan kita, alangkah lebih baik kita membiarkannya, tidak terpancing secara emosional dan tetap fokus pada tujuan kita. Karena dengan mengikuti emosi negatif malah akan memperburuk keadaan.
Dengan menerapkan prinsip dalam ajaran stoicisme itu juga, kita akan merasa lebih tenang menghadapinya dan sebisa mungkin membuat diri kita tetap merasa nyaman di tengah situasi ataupun persoalan yang sedang kita hadapi. Dalam istilah kekinian yang seringkali kita dengar, kita perlu untuk tetap menjaga kewarasan dengan tidak ambil pusing hal-hal yang tidak mampu kita kendalikan agar terhindar dari stress atau depresi.
Jadi prinsip utama yang penting dalam menerapkan stoicisme dalam kehidupan sehari-hari adalah dengan sadar diri dan memfokuskan diri bahwa ada sesuatu hal di luar diri kita yang tidak bisa kita kendalikan dan berpikir dengan nalar bahwa kita mampu mengendalikan pikiran, persepsi juga perasaan atau emosi kita terhadap situasi eksternal tersebut.
Dalam konsep stoicisme, bahagia itu sederhananya adalah terhindar dari segala hal yang membuat kita terganggu. Bahagia itu tergantung pada bagaimana kita berpikir dan menyikapi situasi yang kita hadapi dan tidak mengingini sesuatu yang di luar kendali diri kita.
Sumber pustaka:
Henry Manampiring, "Filosofi Teras : Filsafat Yunani - Romawi Kuno Untuk Mental Tangguh Masa Kini"
Sumber gambar:
Pinterest, Stoic Walls
Tidak ada komentar:
Posting Komentar