Sabtu, 30 Agustus 2025

"Memaknai Kemerdekaan Di Masa Kini"

Kita baru saja melewati peringatan hari kemerdekaan negara Republik Indonesia yang ke-80, 17 Agustus 2025 lalu. Masih terasa suasana meriah kegiatan perayaan ulang tahun kemerdekaan bangsa kita. Bendera dan umbul-umbul berkibar di beberapa ruas jalan dan halaman gedung, lampu-lampu hias, pernak-pernik hiasan bernuansa merah putih di rumah-rumah serta jalan-jalan perumahan warga, gapura yang dihias semarak di setiap gerbang dan gang menuju pemukiman warga. Selain itu, berbagai kegiatan dilaksanakan untuk memperingatinya. Mulai dari kegiatan upacara bendera, beragam lomba khas agustusan seperti lomba panjat pinang, lomba balap karung, lomba makan kerupuk dan lain sebagainya. Berbagai acara hiburan pun digelar, mulai dari acara pawai atau karnaval, hingga pentas seni yang diselenggarakan oleh warga di seluruh pelosok negeri ini.

Namun, apakah memperingati kemerdekaan hanya sebatas merayakan dan memeriahkannya dengan acara atau selebrasi yang semarak? Lalu, apa sesungguhnya makna kemerdekaan? Apakah bangsa ini sudah sungguh-sungguh merdeka, atau masih ada yang harus diperjuangkan? Kemerdekaan seperti apa yang telah kita peroleh di masa sekarang ini sebagai pribadi maupun sebagai warga negara? 

Ilustrasi memperingati hari      kemerdekaan. Sumber gambar : Pinterest/afifa art.

Merdeka adalah kebebasan dari segala bentuk tekanan, penindasan, penjajahan dan penguasaan bangsa asing atau pihak luar. Merdeka juga berarti kebebasan dalam memperoleh kedaulatan untuk menentukan nasib sendiri serta membangun identitas diri secara utuh.

"Merdeka" adalah kata yang sering diteriakkan saat memperingati hari kemerdekaan. Itu akan menyalakan kembali api semangat yang diikrarkan para pejuang kemerdekaan di masa lampau sehingga kita sebagai generasi penerus bangsa mampu mempertahankan dan meneruskan perjuangan mereka untuk mewujudkan negara yang sungguh-sungguh berdaulat dan makmur sejahtera, terbebas dari segala bentuk penjajahan dan penindasan.

Bila zaman dahulu, para pahlawan berjuang sekuat tenaga untuk memperoleh kemerdekaan dengan melawan penjajah bangsa asing. Saat ini, setelah kemerdekaan itu diraih, kita sebagai generasi penerus bangsa, bertugas mempertahankan kemerdekaan tersebut dengan cara mengisi kemerdekaan, memajukan negara dan bangsa ini menjadi bangsa yang benar-benar berdaulat, makmur dan sejahtera. Di masa kini, kita memaknai kemerdekaan dengan cara yang berbeda.

Tokoh proklamator, bung Karno, pernah mengungkapkan pesan yang begitu melegenda : "perjuanganku lebih mudah karena mengusir penjajah, tapi perjuanganmu akan lebih sulit karena melawan bangsamu sendiri". Pernyataan tersebut menunjukkan bahwa tantangan dan rintangan kita saat ini lebih besar, karena permasalahan yang kita hadapi berasal dari problematika internal di dalam bangsa ini.

Seperti kutipan yang dinyatakan oleh presiden pertama kita tersebut, telah kita saksikan serta kita alami dan rasakan, berbagai problematika di dalam negeri ini telah menjadi suatu tantangan besar dalam memperjuangkan kemerdekaan yang hakiki sebagai bangsa yang berdaulat, adil, makmur dan sejahtera. 

Kita memang sudah tidak lagi dijajah oleh bangsa lain. Sudah 80 tahun bangsa ini merdeka. Tapi kita sebagai warga negara yang merdeka, belum  sepenuhnya merdeka secara utuh. Masih banyak persoalan bangsa yang mengesampingkan hak warga negara atau rakyat negeri ini untuk terbebas dari belenggu kemiskinan, kondisi ekonomi dan penghidupan yang tidak layak, kualitas pendidikan yang relatif rendah serta biaya pendidikan yang mahal, masih banyaknya perampasan hak asasi manusia oleh oknum aparat hukum, pembungkaman kebebasan berpendapat, keadilan yang tidak memihak rakyat, kesejahteraan yang timpang, penyediaan lapangan pekerjaan yang sempit sehingga menimbulkan tingkat pengangguran yang tinggi, pembangunan infrastruktur yang tidak merata, tingkat kriminalitas yang semakin tinggi dan meresahkan, korupsi yang dilakukan oleh oknum pejabat yang menyebabkan kerugian negara dan merugikan rakyat, juga berbagai persoalan lain yang membutuhkan solusi untuk menjadikan negeri ini aman, tentram, sejahtera dan berdaulat sebagai suatu bangsa yang merdeka secara hakiki.

Ada kejadian ironis di bulan kemerdekaan kali ini. Situasi dan kondisi politis yang merenggut hak asasi rakyat sebagai warga negara yang seharusnya merdeka, telah dinodai oleh tragedi yang memilukan. Rakyat bergerak melawan ketidakadilan dari pemerintah dan para wakil rakyat yang seharusnya menjadi pengayom rakyat, melalui aksi demonstrasi atau unjuk rasa dari berbagai elemen masyarakat. Bahkan aparat keamanan negara yang seharusnya mengamankan dan melindungi rakyat, ternodai oleh anarkisme oknum aparat terhadap para pengunjuk rasa hingga menimbulkan korban jiwa. Peristiwa yang sangat miris. Masa-masa yang seharusnya diliputi kebahagiaan untuk memperingati kemerdekaan, justru tercederai oleh peristiwa yang jauh dari makna merdeka. Kejadian tragis tersebut memunculkan pertanyaan: apakah rakyat di negeri ini sudah sungguh-sungguh merdeka?

Di masa kini, kemerdekaan belum bisa sepenuhnya dimaknai sebagai suatu kebebasan yang berdaulat bagi seluruh rakyat di negeri ini. Masih banyak tugas dan "pekerjaan rumah" yang harus dibenahi dan dicarikan solusi atas berbagai persoalan bangsa dengan cara duduk bersama, berdiskusi dan beraksi bersama dari seluruh warga negara ini, baik pemerintah maupun rakyat, untuk bisa meraih persatuan dan kesatuan bangsa yang berkeadilan sosial. Ini tugas bersama sebagai seluruh generasi penerus bangsa untuk mencapai kedaulatan, kesejahteraan dan kemajuan negara ini.

Ada tanggung jawab besar yang diemban oleh generasi bangsa sekarang ini. Menyelesaikan segala persoalan di dalam negeri ini, memperbaiki segala kesalahan, kerusakan serta ketimpangan yang telah terjadi dan menatanya kembali menjadi bangsa yang merdeka, berkeadilan dan berdaulat secara hakiki dan mengisi kemerdekaan yang telah diperjuangkan oleh para pendahulu bangsa ini dengan cara-cara yang positif dan berdasarkan nilai-nilai yang sesuai dengan asas Pancasila.

Tantangan yang ada tidak hanya berasal dari persoalan-persoalan di dalam negeri ini. Tantangan yang berasal dari luar pun tidak kalah penting untuk kita cermati dan kita sikapi dengan positif dan bijak. Di era globalisasi ini, kemajuan pesat bidang teknologi berpengaruh terhadap masuk dan berbaurnya budaya asing dengan budaya yang kita miliki sebagai warisan dari nenek moyang kita. Selain itu, era digital saat ini yang merambah setiap aspek di seluruh dunia membawa pengaruh yang tidak hanya positif, namun juga menimbulkan dampak negatif yang memunculkan berbagai persoalan bagi generasi yang ada saat ini. Hal tersebut merupakan tantangan yang harus dihadapi oleh bangsa kita dalam menyikapi dampak dari teknologi digital yang sangat berpengaruh terhadap kehidupan berbangsa dan bernegara.

Tantangan  serta rintangan yang berasal dari persoalan di dalam negeri maupun tantangan yang muncul dari luar, mau tak mau harus kita hadapi dan kita selesaikan dengan bijak. Tidak dengan cara mengabaikan, membiarkan, menolak ataupun mempertentangkan. Segala persoalan harus diselesaikan agar tidak mencederai identitas dan kedaulatan negara ini.

Jangan sia-siakan hasil perjuangan para pahlawan dahulu dan jangan biarkan generasi penerus bangsa ini di kemudian hari kehilangan identitas serta kedaulatannya. Sejatinya, tanah air, bangsa dan negara ini adalah warisan para pendahulu kita yang harus selalu kita jaga keberlangsungannya karena ini semua merupakan titipan bagi generasi anak cucu kita kelak.

Mari kita isi kemerdekaan ini, tidak hanya dengan memperingati dan merayakannya, tapi juga dengan memaknai kemerdekaan dengan karya yang positif, memegang, menjaga dan melestarikan nilai-nilai luhur yang telah diwariskan oleh para pendahulu kita di masa lampau  secara bijaksana, berdasarkan asas Pancasila yang telah kita miliki sebagai bangsa yang berdaulat, sehingga bisa diwariskan kembali kepada generasi di masa depan.

Semoga kondisi bangsa yang sedang tidak baik-baik ini masih menyisakan harapan yang akan membawa perubahan ke arah yang lebih baik dan juga menjadi bangsa besar yang kembali dipandang baik di mata dunia internasional.

Tetap semangat untuk berjuang meraih kemerdekaan sejati.









Kamis, 31 Juli 2025

"Menanamkan Nilai Kejujuran, Berawal Dari Lingkungan Keluarga"

Banyak peristiwa maupun kasus yang kita lihat, kita dengar bahkan kita alami di negeri ini yang mengesampingkan ataupun menghilangkan nilai kejujuran. Berucap atau bertindak dengan kejujuran sepertinya sudah merupakan sesuatu yang mahal dan langka dijumpai. Kebohongan, kecurangan dan keculasan sudah menjadi hal biasa dan sering kita hadapi dalam kehidupan sehari-hari. Kebiasaan dan pembiasaan yang buruk memang, tapi begitulah faktanya.

Banyak orang yang sepertinya takut mengutarakan atau mengungkap kebenaran. Disamping itu, seringkali terjadi normalisasi serta pembiaran terhadap kecurangan yang dijumpai dalam berbagai aspek kehidupan sosial di negeri yang konon selama ini sangat menjunjung tinggi moralitas positif. Mengapa hal tersebut bisa terjadi? Semakin langkakah nilai kejujuran saat ini? Apa yang salah dengan sikap menjunjung tinggi nilai kejujuran?

Ilustrasi bersikap jujur (Sumber gambar : Pinterest / Nurul Huda)

Kini, banyak orang yang memegang nilai moral kejujuran dianggap sebagai pahlawan kesiangan, sok alim, sok idealis ataupun dianggap tidak bisa diajak kerjasama atau tidak kooperatif bahkan dianggap berkhianat.

Banyak fenomena sosial dalam masyarakat di negeri ini, orang jujur malah dianggap aneh, dicibir, dikucilkan bahkan dibully oleh pihak-pihak yang mengklaim dirinya sebagai pihak-pihak yang kooperatif dengan sistem kecurangan atau ketidakjujuran. Hal itu dikarenakan melakukan kecurangan sudah dianggap sesuatu yang lumrah, dimaklumkan dan mengakar sebagai suatu kebiasaan dan normalisasi dalam kehidupan sehari-hari. Jika sudah begini, dimana letak kesalahannya? Masih adakah ruang bagi orang-orang yang masih memegang nilai kejujuran?

Banyak fakta yang tidak bisa kita sangkal bahwa saat ini banyak orang yang tidak berani berpendapat, menyuarakan kebenaran karena takut, terintimidasi dan lebih memilih diam untuk mencari aman. Kalaupun berani bersuara akan dianggap melakukan kesalahan, menentang arus ataupun berkhianat.

Dari hal-hal kecil di  lingkungan komunitas sosial dalam kehidupan sehari-hari hingga permasalahan besar dalam skala komunitas bernegara seringkali dijumpai berbagai kecurangan. Anak yang diminta berbohong oleh orangtuanya saat datang penagih utang, siswa yang menyontek saat ujian di sekolah, oknum petugas yang menjalankan pungutan liar saat warga mengurus keperluan administrasi, pedagang yang mencurangi timbangan demi keuntungan lebih dari yang seharusnya, manipulasi data yang dilakukan oleh pegawai perusahaan demi keuntungan pribadi, oknum aparat hukum yang tidak adil dalam menangani suatu kasus hukum, korupsi yang dilakukan oleh oknum pejabat dan hal-hal kecurangan lainnya yang merugikan orang/pihak lain tentunya. Hal-hal tersebut merupakan contoh nyata yang seringkali kita jumpai dalam kehidupan sehari-hari.

Pada kenyataannya, apabila seseorang menyaksikan ketidakjujuran tersebut seringkali membiarkan hal itu terjadi tanpa melakukan peringatan bahkan memaksa diri untuk menjadikannya sesuatu yang "biasa", padahal tahu dan sadar bahwa hal tersebut salah.

Ketidakjujuran, kebohongan ataupun kecurangan secara langsung maupun tidak langsung akan merugikan diri sendiri maupun orang lain. Hilangnya kepercayaan terhadap pelaku kecurangan menyebabkan orang-orang enggan berhadapan serta berurusan kembali dengan orang yang tidak jujur tersebut. Hal itu tentu saja menutup peluang dan kesempatan untuk mengembangkan diri di masa mendatang.

Untuk mengatasi persoalan ketidakjujuran dan kecurangan yang terjadi pada masyarakat bernegara saat ini, akar permasalahannya terletak pada pola edukasi di lingkungan sosial terkecil yaitu keluarga.

Keluarga merupakan lingkungan terkecil dan juga tempat belajar pertama untuk membentuk karakter, sikap dan akhlak seseorang sebelum terjun untuk bersosialisasi di lingkungan sosial yang lebih besar. Apabila di dalam lingkungan keluarga sudah mendapatkan edukasi yang baik, diajarkan, dibiasakan dan pada akhirnya terbiasa untuk bersikap atau berperilaku jujur, maka di lingkungan sosial yang lebih luas, ia akan berbekal kejujuran dalam setiap interaksi yang dilakukannya di lingkungan sosial tersebut. Ia akan merasa bertanggung-jawab atas perilaku dan sikapnya untuk mengemban moral yang telah diperolehnya di dalam lingkungan keluarga.

Seorang anak yang sejak kecil diajarkan serta dididik untuk berkata dan bersikap jujur oleh orang tuanya, akan merasa bersalah bila di lingkungan sekolah atau di dalam pergaulannya melakukan hal yang tidak semestinya, seperti berkata bohong, menyontek, menipu, mengambil atau merebut sesuatu yang bukan miliknya. Saat dewasa ia pun akan terbiasa untuk berkata dan bertindak jujur dalam setiap perilakunya, meskipun dihadapkan pada situasi yang berpeluang untuk melakukan kecurangan.

Mengapa lingkungan keluarga memiliki peran yang sangat penting dalam pembentukan karakter seseorang, dalam hal ini menanamkan nilai moral tentang kejujuran? Karena keluarga merupakan institusi terkecil dalam tatanan sosial yang mampu menanamkan benih nilai moral positif yang akan menumbuhkan karakter seseorang. 

Peran orang tua yang menanam dan menumbuhkembangkan anak-anak dalam lingkungan keluarga yang menjunjung tinggi nilai kejujuran sejak kecil, akan memiliki akar nilai atau norma yang kuat sebagai pegangan bahkan menebar nilai kebaikannya tersebut di lingkungan sosial yang lebih luas. Disamping itu peran orang tua juga harus mampu menjadi role model atau teladan bagi anak-anak dalam penguatan akar nilai dan norma tersebut. Jadi bukan sekedar mengajarkan, tetapi juga menjadi contoh untuk dapat ditiru.

Prinsip yang telah dibangun di dalam lingkungan keluarga inilah yang akan selalu dibawa oleh seseorang dimanapun ia berada, dalam hidup bermasyarakat dan bernegara. 

Orang-orang yang berprinsip dengan berpegang pada akar nilai moral kejujuran inilah yang mampu dan harus memiliki keberanian untuk mengubah sistem nilai yang selama ini dianggap normal, yang sesungguhnya suatu kesalahan.

Demi perubahan baik itu dibutuhkan upaya keras dari para orang tua dalam membangun karakter anak yang harus dimulai dari lingkungan keluarga, dengan cara menanamkan serta menormalisasi nilai kejujuran di setiap saat, dalam segala aspek kehidupan. Jangan ada toleransi bagi ketidakjujuran dan berani untuk jujur, baik dalam berucap maupun dalam bersikap.




Minggu, 26 Januari 2025

"Perlunya Memiliki Sahabat Sebagai Teman Curhat"

Manusia sebagai mahluk sosial tentunya mempunyai kebutuhan untuk berinteraksi dengan manusia lain. Dalam berkehidupan sosial, setiap individu pasti pernah memiliki kawan atau teman sebagai hasil dari interaksinya. Teman adalah seseorang atau beberapa orang yang memiliki makna penting bagi setiap individu, karena dengan memiliki seorang ataupun banyak teman, kita akan merasa bahwa kita tidak hidup sendirian, saling membutuhkan dan saling melengkapi.

Namun, apakah setiap orang yang berteman dengan kita bisa dijadikan sahabat? Belum tentu, karena sahabat memiliki nilai lebih dari sekedar berteman. Sahabat merupakan seseorang atau beberapa orang yang dianggap teman pilihan, yang mempunyai arti dan peran penting dalam circle pertemanan yang kita jalin.

Ilustrasi memiliki sahabat
(Sumber : Pinterest/Chromatikus Cromaticos)

Persahabatan biasanya terjalin tanpa sengaja, terbentuk dengan sendirinya. Bisa karena memiliki cara berpikir yang sama, hobby atau kegemaran yang sama, kesamaan visi tentang memandang hidup, ataupun karena kesamaan karakter atau sefrekuensi dengan kita. Itulah sebabnya, seringkali sahabat dikenal dengan istilah soulmate (teman sejiwa) atau dalam istilah pergaulan kekinian disebut bestie (best friend) yang berarti teman terbaik dalam hidup kita.

Mengapa kita perlu sosok sahabat dalam hidup kita? Seberapa penting peran sahabat dalam menguatkan kondisi psikologis kita?  Perlukah kita menjadikan sahabat sebagai teman curhat?

Seperti halnya tubuh yang membutuhkan asupan makanan dan minuman sehat untuk menambah energi agar bisa beraktifitas dengan kondisi yang sehat, jiwa kita pun membutuhkan sesuatu yang menjadi penguat agar tetap dalam kondisi sehat. Salah satu penguat itu adalah memiliki atau menjalin suatu hubungan dalam ikatan persahabatan.

Memiliki sahabat merupakan salah satu kebutuhan bagi jiwa untuk menciptakan rasa nyaman, bahagia, merasa dipedulikan dan merasa disayangi, tentunya disamping kebutuhan akan pentingnya memiliki keluarga yang harmonis.

Bersama sahabat, kita bisa berbagi perasaan dan pengalaman apapun secara terbuka dan apa adanya, baik suka maupun duka. Dalam ikatan persahabatan, ada suatu komitmen  kejujuran, keterbukaan, saling percaya dan saling pengertian yang dibangun bersama secara tulus. Sahabat adalah orang terdekat yang mampu menerima kelebihan maupun kekurangan kita. Yang terpenting pula, sahabat merupakan orang yang membawa kita ke lingkungan dan kondisi yang baik dan menjadikan kita menjadi pribadi yang lebih baik.

Dalam menjalani kehidupan, kita mengalami berbagai fase atau situasi yang membuat kita gembira, bahagia, sedih, kecewa atau bimbang. Pada saat menghadapi situasi-situasi tersebut, ada kalanya kita tidak bisa berbagi perasaan dengan orangtua ataupun anggota keluarga yang lain karena alasan tertentu. Saat demikian, terkadang kita lebih nyaman apabila berbagi cerita dan berbagi rasa dengan sahabat.

Seperti di kala kita sedang galau dalam menghadapi suatu masalah yang terasa berat apabila kita hadapi sendirian, hadirnya sahabat sangat dibutuhkan untuk menemani, berbagi cerita serta memberikan dukungan moril. Berbagi cerita dengan sahabat, tidak hanya akan meringankan beban batin, tetapi juga membuka sudut pandang baru, bahkan solusi atas persoalan yang sedang kita hadapi. Setidaknya, di saat seperti ini peran sahabat sangat penting untuk menguatkan dan menjadikan kita tegar dalam menghadapi persoalan.

Intinya, sahabat lebih dibutuhkan sebagai teman curhat dikala kita sedang menghadapi suatu masalah, situasi dan kondisi dimana kita sedang tidak baik-baik. Biasanya saat kita sedang galau atau sedih, kita tidak mampu berpikir jernih untuk mengambil suatu keputusan, disaat itulah butuh kehadiran sahabat untuk sekedar curhat atau berbagi cerita tentang situasi yang sedang kita hadapi tersebut. Meskipun kadang teman curhat tidak mampu memberikan solusi secara langsung, setidaknya dengan curhat kepada sahabat, beban batin kita akan terasa ringan dan merasa lega setelah curhat kepada sahabat.

Ilustrasi sahabat sebagai teman curhat (Sumber : Pinterest/Barbara)

Curhat kepada sahabat terlihat seperti hal yang sepele, hanya sharing atau berbagi cerita. Namun bila diperhatikan lebih jauh, curhat dengan sahabat sebagai orang terdekat yang kita percayai, akan memberikan dampak positif bagi kesehatan mental kita. Dengan berbagi curhatan, kita akan mengetahui kondisi yang sedang kita ataupun sahabat kita alami sehingga kita bisa saling melakukan kontrol agar tetap bertahan dalam kondisi yang normal dan tidak melakukan hal-hal menyimpang yang dapat merugikan diri sendiri ataupun orang lain. Misalnya, dengan saling curhat atau sharing dengan sahabat, bisa saling mengingatkan apabila terdapat tanda-tanda atau perilaku yang  menyimpang dalam pergaulan atau masuk ke lingkungan pergaulan yang salah.

Khususnya pada masa remaja yang merupakan fase transisi dari masa kanak-kanak menuju masa dewasa, seringkali dihadapkan pada situasi dengan berbagai problematika sosial sementara kondisi emosional yang cenderung labil, adanya kehadiran sahabat sebagai teman curhat seringkali dibutuhkan. Apalagi bila lingkungan keluarga yang masing-masing terlalu sibuk sehingga tidak memiliki quality time untuk saling berbagi cerita, atau hidup di lingkungan keluarga yang kurang harmonis yang membuat remaja tidak memiliki sosok untuk dijadikan teman berbagi cerita. Bahkan terkadang persoalan di dalam lingkungan keluarga yang justru menjadi pemicu atau penyebab masalah bagi anak atau remaja tersebut. Pada situasi seperti ini, anak yang beranjak remaja atau  masa pra dewasa yang sedang labil tersebut biasanya akan mencari kesenangan di luar rumah bersama teman sebayanya. Dalam hal ini, sangat penting untuk memilih dan memilah siapa saja yang pantas dijadikan teman. Karena bila salah memilih teman dalam bergaul, bisa-bisa remaja tersebut akan terjerumus ke dalam pergaulan yang tidak baik yang memberikan dampak negatif.

Sahabat sebagai teman curhat juga dibutuhkan di saat seseorang dalam keadaan rapuh, frustrasi, depresi dan putus asa. Apalagi bila seseorang merasa sendirian, kesepian dan merasa diabaikan atau tidak dipedulikan. Dalam kondisi seperti itu, tidak jarang kita temui, bila ia menghadapi suatu persoalan, ia akan merasa frustrasi dan panik sehingga terlintas untuk memutuskan mengakhiri hidup secara tidak wajar. Hal ini tentu saja sangat berbahaya. Untuk itu, kehadiran sahabat yang bisa memahami kondisinya akan sangat dibutuhkan. Apabila ada sahabat yang menemani atau mendampinginya, maka rasa frustrasi dan keputusasaan yang ia rasakan dapat diredam dengan cara curhat atau berbagi cerita tentang masalah yang dihadapinya sehingga ia terhindar dari pikiran negatif untuk mengakhiri hidupnya dikarenakan ia tidak merasa sendirian dalam menghadapi persoalan yang tengah ia alami tersebut. Bahkan, bukan tidak mungkin dengan curhat dan bertukar pikiran atau beradu pandangan, bisa menemukan solusi untuk mengatasi persoalan yang sedang dihadapinya.

Rasa kesepian, frustrasi atau merasa tidak dipedulikan juga bisa saja memicu perbuatan negatif lain yang merugikan diri sendiri, yang akhirnya bukan tidak mungkin bertindak negatif yang merugikan orang lain.
Masuk ke lingkungan pergaulan yang negatif, di saat kondisi jiwa sedang rapuh, akan membawa pengaruh negatif, seperti menyebabkan terjerumusnya seseorang ke dalam jeratan pemakaian obat-obatan terlarang/narkotika atau pergaulan  bebas yang tak terkendali. Hal-hal tersebut akan terhindar apabila memiliki sahabat baik yang mengingatkan, mencegah atau menghindarkan dari hal-hal yang menjerumuskannya.

Persahabatan yang tulus akan memberikan pengaruh yang baik pula dalam kehidupan kita. Apabila orang yang kita anggap sebagai kawan atau teman menyebabkan kita terjerumus ke dalam pergaulan yang salah atau membiarkan kita melakukan suatu penyimpangan, maka itu tidak layak disebut sahabat. Karena sejatinya, sahabat tidak hanya membuat kita nyaman, tapi juga sosok yang bisa membuat kehidupan kita berjalan dengan baik di dalam lingkungan yang baik dan selalu mengingatkan ataupun menyadarkan kita di saat kita hendak melakukan kesalahan atau penyimpangan. 

Dengan demikian, kehadiran sahabat sejati dalam kehidupan kita dapat memberi  pengaruh positif terhadap kondisi kesehatan batin atau jiwa kita. Maka jadilah seseorang yang berperan positif untuk sahabat kita dan selalu jaga dan jangan sia-siakan persahabatan yang telah kita miliki selama ini. Karena seperti pepatah yang mengatakan bahwa "memiliki seorang sahabat yang menemani dan menolong kita saat terpuruk jauh lebih berharga daripada memiliki seratus teman yang hanya bertepuk tangan dan memberikan pujian saat kita berjaya".