Kamis, 31 Juli 2025

"Menanamkan Nilai Kejujuran, Berawal Dari Lingkungan Keluarga"

Banyak peristiwa maupun kasus yang kita lihat, kita dengar bahkan kita alami di negeri ini yang mengesampingkan ataupun menghilangkan nilai kejujuran. Berucap atau bertindak dengan kejujuran sepertinya sudah merupakan sesuatu yang mahal dan langka dijumpai. Kebohongan, kecurangan dan keculasan sudah menjadi hal biasa dan sering kita hadapi dalam kehidupan sehari-hari. Kebiasaan dan pembiasaan yang buruk memang, tapi begitulah faktanya.

Banyak orang yang sepertinya takut mengutarakan atau mengungkap kebenaran. Disamping itu, seringkali terjadi normalisasi serta pembiaran terhadap kecurangan yang dijumpai dalam berbagai aspek kehidupan sosial di negeri yang konon selama ini sangat menjunjung tinggi moralitas positif. Mengapa hal tersebut bisa terjadi? Semakin langkakah nilai kejujuran saat ini? Apa yang salah dengan sikap menjunjung tinggi nilai kejujuran?

Ilustrasi bersikap jujur (Sumber gambar : Pinterest / Nurul Huda)

Kini, banyak orang yang memegang nilai moral kejujuran dianggap sebagai pahlawan kesiangan, sok alim, sok idealis ataupun dianggap tidak bisa diajak kerjasama atau tidak kooperatif bahkan dianggap berkhianat.

Banyak fenomena sosial dalam masyarakat di negeri ini, orang jujur malah dianggap aneh, dicibir, dikucilkan bahkan dibully oleh pihak-pihak yang mengklaim dirinya sebagai pihak-pihak yang kooperatif dengan sistem kecurangan atau ketidakjujuran. Hal itu dikarenakan melakukan kecurangan sudah dianggap sesuatu yang lumrah, dimaklumkan dan mengakar sebagai suatu kebiasaan dan normalisasi dalam kehidupan sehari-hari. Jika sudah begini, dimana letak kesalahannya? Masih adakah ruang bagi orang-orang yang masih memegang nilai kejujuran?

Banyak fakta yang tidak bisa kita sangkal bahwa saat ini banyak orang yang tidak berani berpendapat, menyuarakan kebenaran karena takut, terintimidasi dan lebih memilih diam untuk mencari aman. Kalaupun berani bersuara akan dianggap melakukan kesalahan, menentang arus ataupun berkhianat.

Dari hal-hal kecil di  lingkungan komunitas sosial dalam kehidupan sehari-hari hingga permasalahan besar dalam skala komunitas bernegara seringkali dijumpai berbagai kecurangan. Anak yang diminta berbohong oleh orangtuanya saat datang penagih utang, siswa yang menyontek saat ujian di sekolah, oknum petugas yang menjalankan pungutan liar saat warga mengurus keperluan administrasi, pedagang yang mencurangi timbangan demi keuntungan lebih dari yang seharusnya, manipulasi data yang dilakukan oleh pegawai perusahaan demi keuntungan pribadi, oknum aparat hukum yang tidak adil dalam menangani suatu kasus hukum, korupsi yang dilakukan oleh oknum pejabat dan hal-hal kecurangan lainnya yang merugikan orang/pihak lain tentunya. Hal-hal tersebut merupakan contoh nyata yang seringkali kita jumpai dalam kehidupan sehari-hari.

Pada kenyataannya, apabila seseorang menyaksikan ketidakjujuran tersebut seringkali membiarkan hal itu terjadi tanpa melakukan peringatan bahkan memaksa diri untuk menjadikannya sesuatu yang "biasa", padahal tahu dan sadar bahwa hal tersebut salah.

Ketidakjujuran, kebohongan ataupun kecurangan secara langsung maupun tidak langsung akan merugikan diri sendiri maupun orang lain. Hilangnya kepercayaan terhadap pelaku kecurangan menyebabkan orang-orang enggan berhadapan serta berurusan kembali dengan orang yang tidak jujur tersebut. Hal itu tentu saja menutup peluang dan kesempatan untuk mengembangkan diri di masa mendatang.

Untuk mengatasi persoalan ketidakjujuran dan kecurangan yang terjadi pada masyarakat bernegara saat ini, akar permasalahannya terletak pada pola edukasi di lingkungan sosial terkecil yaitu keluarga.

Keluarga merupakan lingkungan terkecil dan juga tempat belajar pertama untuk membentuk karakter, sikap dan akhlak seseorang sebelum terjun untuk bersosialisasi di lingkungan sosial yang lebih besar. Apabila di dalam lingkungan keluarga sudah mendapatkan edukasi yang baik, diajarkan, dibiasakan dan pada akhirnya terbiasa untuk bersikap atau berperilaku jujur, maka di lingkungan sosial yang lebih luas, ia akan berbekal kejujuran dalam setiap interaksi yang dilakukannya di lingkungan sosial tersebut. Ia akan merasa bertanggung-jawab atas perilaku dan sikapnya untuk mengemban moral yang telah diperolehnya di dalam lingkungan keluarga.

Seorang anak yang sejak kecil diajarkan serta dididik untuk berkata dan bersikap jujur oleh orang tuanya, akan merasa bersalah bila di lingkungan sekolah atau di dalam pergaulannya melakukan hal yang tidak semestinya, seperti berkata bohong, menyontek, menipu, mengambil atau merebut sesuatu yang bukan miliknya. Saat dewasa ia pun akan terbiasa untuk berkata dan bertindak jujur dalam setiap perilakunya, meskipun dihadapkan pada situasi yang berpeluang untuk melakukan kecurangan.

Mengapa lingkungan keluarga memiliki peran yang sangat penting dalam pembentukan karakter seseorang, dalam hal ini menanamkan nilai moral tentang kejujuran? Karena keluarga merupakan institusi terkecil dalam tatanan sosial yang mampu menanamkan benih nilai moral positif yang akan menumbuhkan karakter seseorang. 

Peran orang tua yang menanam dan menumbuhkembangkan anak-anak dalam lingkungan keluarga yang menjunjung tinggi nilai kejujuran sejak kecil, akan memiliki akar nilai atau norma yang kuat sebagai pegangan bahkan menebar nilai kebaikannya tersebut di lingkungan sosial yang lebih luas. Disamping itu peran orang tua juga harus mampu menjadi role model atau teladan bagi anak-anak dalam penguatan akar nilai dan norma tersebut. Jadi bukan sekedar mengajarkan, tetapi juga menjadi contoh untuk dapat ditiru.

Prinsip yang telah dibangun di dalam lingkungan keluarga inilah yang akan selalu dibawa oleh seseorang dimanapun ia berada, dalam hidup bermasyarakat dan bernegara. 

Orang-orang yang berprinsip dengan berpegang pada akar nilai moral kejujuran inilah yang mampu dan harus memiliki keberanian untuk mengubah sistem nilai yang selama ini dianggap normal, yang sesungguhnya suatu kesalahan.

Demi perubahan baik itu dibutuhkan upaya keras dari para orang tua dalam membangun karakter anak yang harus dimulai dari lingkungan keluarga, dengan cara menanamkan serta menormalisasi nilai kejujuran di setiap saat, dalam segala aspek kehidupan. Jangan ada toleransi bagi ketidakjujuran dan berani untuk jujur, baik dalam berucap maupun dalam bersikap.




Tidak ada komentar:

Posting Komentar