Selasa, 08 November 2022

"Memelihara Hewan Piaraan Sebagai Media Pembentukan Rasa Tanggung Jawab Pada Anak"

Pernahkah melihat atau mendengar atau pun mengalami saat anak ulang tahun minta hadiah hewan piaraan seperti kucing, anjing, kelinci, hamster, ikan, burung atau hewan lainnya?

Bagi pecinta hewan barangkali permintaan seperti itu bukan masalah, tapi bagi para orangtua yang tidak menyukai hewan, apalagi tinggal bersama di lingkungan rumah, hal itu merupakan masalah besar ya.. karena setidaknya akan mengurangi kenyamanan saat ingin beristirahat. Belum lagi terbayang repotnya mengurus hewan tersebut, karena hewan kan mahluk hidup yang harus diurus segala sesuatunya. Berbeda dengan hadiah mainan yang bisa disimpan begitu saja bila sudah selesai dimainkan.

                                            Ilustrasi anak beserta hewan piaraan. 
                                            Sumber gambar: Society6 (pinterest)

Jangan panik dulu wahai para orangtua. Ada baiknya bila kita turuti saja dulu keinginan anak kita selama hewan tersebut dirasa tidak membahayakan anak dan kita pikirkan saja sisi baiknya. Tapi perlu diperhatikan juga, pastikan bahwa usia anak sudah cukup paham dan cukup siap untuk memelihara dan mengurus hewan piaraan.

Secara tidak langsung, memelihara hewan piaraan bisa menumbuhkan rasa tanggung jawab dan disiplin bagi anak. Bagaimana bisa seperti itu? Ya, hewan adalah mahluk hidup yang butuh makan, minum, tidur, mandi, bermain dan harus dijaga kesehatannya. Jika hewan itu sudah kita beli atau adopsi, mau tidak mau segala keperluannya harus kita urus, mulai dari menyediakan kandang, makanan dan minumannya, perawatannya dan perlengkapan-perlengkapan lain yang diperlukan hewan tersebut. Tiap hari mereka harus diperhatikan, dirawat dan diurus, terutama makan/minumnya dan kebersihan kandangnya.

Karena anak yang meminta, biarkan anak mengurus segala kebutuhan hewan piaraannya. Kita sebagai orangtua hanya menyediakan fasilitasnya dan tentu saja memberikan sedikit penjelasan tentang bagaimana dan apa saja yang harus dilakukan terhadap hewan piaraannya, meskipun biasanya penjual hewan yang bersangkutan telah terlebih dulu memberikan petunjuk tentang pemeliharaan hewan tersebut. Tapi alangkah baiknya bila orangtua juga mengingatkan dan juga mengawasi. Apalagi jika hewan piaraannya "agak berbahaya" bagi anak, seperti hewan yang bercakar atau bergigi tajam. Patut diwaspadai ya..

Anak harus tahu apa yang harus dilakukan terhadap hewan piaraannya. Ia harus menentukan jadwal kapan hewan piaraannya diberi makan/minum, kapan dimandikan, kapan harus membersihkan kandang serta kotorannya, kapan harus diberi perawatan kesehatan terutama saat kondisi kesehatannya terganggu.

Dengan terbiasa mengatur waktu dan mengurus serta merawat hewan piaraannya, anak terlatih untuk disiplin waktu dan juga bertanggung jawab terhadap hewan piaraannya tersebut. Karena bila tidak terurus ia harus sadar akan resiko atau konsekuensinya, yaitu sakit bahkan mati.

Disamping melatih kedisiplinan dan rasa tanggung jawab, anak juga akan terlatih untuk peduli dan menyayangi mahluk hidup lain. Secara langsung maupun tidak langsung kebiasaan ini pun biasanya akan tertular pada kebiasaan untuk juga peduli pada sesama manusia. Efek yang positif kan..

Jumat, 05 Agustus 2022

“Memulai Usaha di Rumah untuk Ibu Rumah Tangga”

Ibu rumah tangga merupakan profesi paling mulia bagi perempuan karena ia adalah sosok yang mempertaruhkan seluruh waktu, tenaga dan pikirannya untuk keluarga dengan mengurus semua urusan rumah tangga.

Meski ia “bekerja” tidak mengenal ketentuan jam kerja, tapi tak pernah ada kata lelah karena ia mengerjakan seluruh pekerjaannya disertai cinta dan hati yang tulus demi keluarganya.

Hari-hari yang penuh kesibukan untuk mengurus rumah tangga, sebagai perempuan , ibu rumah tangga juga membutuhkan ruang untuk mengaktualisasikan dirinya dengan kegiatan lain yaitu mengembangkan usaha sesuai passion/kegemaran.

                              Ilustrasi ibu rumah tangga yang memiliki usaha di rumah. 
                              Sumber gambar: I. Risqiya (pinterest)

Sesungguhnya banyak motif ibu rumah tangga ingin mengembangkan usaha, seperti bosan berdiam diri setelah menyelesaikan pekerjaan rumah, ingin mengembangkan hobi, ingin mempunyai penghasilan sendiri ataupun karena alasan ekonomi untuk menambah penghasilan keluarga.

Apapun alasannya, membuka usaha merupakan salah satu kebutuhan bagi sebagian ibu rumah tangga. Namun, karena di sisi lain ada alasan ingin juga pekerjaan rumah tangga tidak terbengkalai, maka ibu rumah tangga memutuskan untuk membuka usaha di rumah. Dengan demikian urusan rumah tangga terurus, anak-anak dan suami tetap mendapatkan perhatian dan juga punya penghasilan tambahan.

Banyak bidang usaha yang bisa dipilih untuk membuka usaha di rumah, dapat berupa berjualan produk/barang dagangan ataupun menawarkan jasa keterampilan. Bidang-bidang usaha berdagang produk/barang misalnya berjualan kuliner/makanan seperti berjualan masakan, cemilan/jajanan, kue-kue atau aneka minuman, bisa juga berjualan sayuran, pakaian, kerajinan tangan, perabotan rumah tangga dan lain-lain. Sedangkan di bidang jasa misalnya menjahit, salon kecantikan dan perawatan tubuh, jasa cetak/print dan fotokopi, laundry dan lain sebagainya.  

Biasanya, hal yang sulit dilakukan dalam membuka usaha di rumah adalah bagaimana memulainya. Disini, saya akan memberikan beberapa tips sederhana untuk memulai usaha di rumah, antara lain :

1.  Tentukan jenis usaha apa yang akan dijalani, akan lebih baik bila sesuai dengan minat atau hal yang disukai, juga sesuai dengan keahlian atau keterampilan yang dimiliki. Apalagi bila usaha yang akan dilakukan adalah usaha di bidang jasa atau pelayanan.

2. Atur jadwal yang sekiranya tidak menyita banyak waktu sehingga tidak mengganggu aktifitas mengurus rumah tangga. Libatkan anggota keluarga untuk berdiskusi sebelum memutuskan untuk membuka usaha di rumah, karena hal ini tentunya akan berdampak pada aktifitas ganda ibu rumah tangga yang juga pelaku usaha yang efeknya akan dirasakan oleh pasangan serta anak-anak kita. Apalagi bila usaha kita sudah mulai berkembang bahkan maju, waktu kita akan tersita dan juga terbagi antara mengurus usaha dan mengurus rumah tangga. Disinilah perlunya memperhatikan manajemen waktu.

3.  Sesuaikan usaha yang akan dirintis dengan anggaran yang tersedia, ini berkaitan dengan modal pertama. Jangan memaksakan diri untuk membuka usaha yang langsung besar-besaran atau tidak sesuai dengan kapasitas atau kemampuan keuangan yang tersedia. Akan lebih baik bila modal usaha dari tabungan atau simpanan uang yang kita miliki. Bila akan menggunakan pinjaman modal, pastikan kita bisa menggunakan dan mengaturnya dengan bijak sehingga tidak ada kesulitan atau masalah dalam pengembaliannya.

4. Buat perencanaan yang matang untuk menghindari hal-hal yang tidak diinginkan, misalnya: karena rencana yang tidak matang atau asal-asalan maka modal habis dengan percuma. Perencanaan usaha bisa berupa rencana anggaran, waktu, tempat, perlengkapan yang dibutuhkan untuk usaha, siapa saja yang akan diajak untuk terlibat atau bekerja sama di dalam usaha kita dan tahapan proses apa saja yang akan kita jalani pada usaha kita.

5. Tentukan pangsa pasar atau siapa saja yang akan menjadi target konsumen produk atau jasa yang kita tawarkan. Biasanya ini akan dipengaruhi oleh lokasi tempat kita berjualan. Misalnya kita bisa berjualan jajanan atau makanan, jasa fotokopi dan toko alat tulis bila tempat tinggal atau tempat usaha kita dekat dengan lokasi sekolah atau perkantoran. Kecuali bila kita berjualan secara online, kita bisa mendapatkan konsumen dari berbagai kalangan sesuai dengan produk atau jasa yang kita tawarkan dan konsumen butuhkan.

6. Jangan mencampuradukkan uang untuk modal usaha berjalan dengan uang untuk keperluan pribadi atau rumah tangga. Hal ini berkaitan dengan pengelolaan keuangan usaha yang kita alokasikan dan kita putar agar usaha kita langgeng dan juga berkembang. Bila keuangan usaha tercampur dengan kebutuhan pribadi atau rumah tangga, maka bukan tidak mungkin usaha kita akan terhambat bahkan mengalami kerugian dan akhirnya hancur. Jadi uang yang bisa digunakan untuk kebutuhan pribadi atau rumah tangga hanya bisa kita ambil dari keuntungan/laba saja.

7. Siapkan mental berbisnis, siap untuk sukses dan juga siap untuk rugi karena dalam bisnis atau usaha pasti ada pasang surutnya. Kita tidak bisa berharap bila usaha kita akan selalu untung dan ramai pembeli, apalagi pada saat awal merintis usaha. Ada kalanya kondisi usaha kita berada di atas dan menghasilkan keuntungan yang besar, ada saatnya pula usaha kita berada di bawah dan mengalami kerugian. Yang terpenting adalah kita harus mempersiapkan diri untuk setiap kondisi yang kita jalani selama menjalankan usaha kita.

 

Ok.. setelah semua hal siap, kita bisa langsung mulai merintis usaha yang akan kita bangun.

Hal yang perlu diingat, membangun usaha itu harus melalui proses, jadi jangan terburu-buru menginginkan usaha kita langsung besar ya, perlu tahapan-tahapan tertentu usaha yang kita bentuk dari nol menjadi usaha yang besar. Selain itu, jangan cepat menyerah dalam berproses dan juga dalam menghadapi segala kendala dalam proses yang dilalui. Kita perlu bersabar dan terus semangat.
Satu hal lagi yang tidak boleh terlupakan bahwa usaha yang kita jalani tidak lantas menjadi masalah dalam menjalankan tugas kita sebagai ibu rumah tangga. Karena hakikatnya peran yang utama kita laksanakan adalah sebagai ibu rumah tangga.

“Rumah, Tempat Belajar Pertama Bagi Anak”

Rumah adalah tempat berkumpul keluarga yang hakikatnya dan sudah seharusnya membuat nyaman para penghuninya. Seperti jargon yang sering kita dengar yaitu “home sweet home” atau “rumahku istanaku”. Ya, rumah adalah tempat terindah dan sudah seharusnya selalu menciptakan suasana yang manis dan harmonis bagi seluruh anggota keluarga yang ada di dalamnya.

Rumah bukan sekedar bangunan yang menjadi tempat pulang setelah rutinitas di luar rumah. Rumah merupakan tempat sosialisasi dan interaksi diantara anggota keluarga yang menghuninya.

                               Ilustrasi keluarga. Sumber gambar: pngtree (pinterest)

Rumah biasanya dihuni oleh keluarga inti (nuclear family) yang terdiri dari ayah, ibu dan anak-anak, meskipun kadangkala ada anggota keluarga lain yang ikut serta menghuni rumah yang kita tinggali, seperti orangtua, adik, kakak atau kerabat lainnya (extended family).

Suasana di rumah sangat berpengaruh pada motif interaksi para anggota keluarga dan yang terpenting adalah sarana edukasi bagi anak. Di sinilah anak mulai belajar tentang segala sesuatu dan hal-hal yang dijadikan bekal untuk bersosialisasi di luar rumah.

Sejak lahir ke dunia, hal pertama yang dikenali anak adalah anggota keluarga yang menyambutnya, terutama orangtuanya, khususnya ibu. Interaksi antara si bayi dan anggota keluarga lain adalah belajar pertama yang dilakukan. Oleh karena itu, interaksi positif yang diterima sebagai sarana edukasi anak sangat berpengaruh terhadap kualitas karakter anak di masa-masa mendatang.

Di dalam lingkungan keluarga, anak mulai belajar berkomunikasi, mulai belajar mengenal nama-nama benda, mulai mengenal cara berinteraksi dan bersosialisasi dengan anggota keluarga yang lain, mulai mengenal pendidikan agama, belajar berhitung dan bernyanyi pun dimulai dari lingkungan keluarga di rumah.

Di lingkungan keluarga pula anak pertama kali dikenalkan tentang norma, etika, tata krama, sopan santun dan aturan-aturan normatif lainnya.

Selain itu di dalam lingkungan keluarga juga anak belajar pertama kali tentang nilai kerjasama, cara menyelesaikan masalah dan konflik yang terjadi diantara anggota keluarga lain, juga soal pengendalian emosi, meskipun dalam skala yang sederhana misalnya perselisihan antara kakak dengan adik mengenai pilihan permainan atau siapa yang lebih dulu mandi dan lain sebagainya.

Dari lingkungan keluarga atau lingkungan rumah akan terbentuk karakter seseorang. Bisa kita lihat, apabila lingkungan keluarga di rumah membentuk karakter positif maka anak akan berperilaku positif di lingkungan sosial. Demikian pula sebaliknya, bila lingkungan keluarga di rumah menciptakan suasana negatif maka anak akan melakukan penyimpangan karakter yang bersifat negatif di lingkungan sosial.

Karena pentingnya peran keluarga di lingkungan rumah, khususnya orangtua dalam membentuk karakter seorang anak, maka sangat disarankan agar orangtua menanamkan pola didik yang baik dan positif terhadap anak di lingkungan rumah. Disamping itu dan yang terpenting adalah sikap dan interaksi diantara anggota keluarga yang terjalin dengan baik dan harmonis akan sangat berpengaruh terhadap sikap dan interaksi anak saat berinteraksi dengan orang-orang dan lingkungan sosial di luar rumah.

Dengan kata lain, karakter seseorang di dalam lingkungan sosial sangat tergantung dari pola pendidikan yang ia dapatkan di dalam lingkungan keluarga atau lingkungan di dalam rumah. Maka jadikanlah rumah sebagai tempat terindah dan tempat edukasi yang positif bagi anak-anak kita.