Rumah adalah tempat berkumpul keluarga yang hakikatnya dan sudah seharusnya membuat nyaman para penghuninya. Seperti jargon yang sering kita dengar yaitu “home sweet home” atau “rumahku istanaku”. Ya, rumah adalah tempat terindah dan sudah seharusnya selalu menciptakan suasana yang manis dan harmonis bagi seluruh anggota keluarga yang ada di dalamnya.
Rumah bukan sekedar bangunan yang menjadi tempat pulang setelah rutinitas di luar rumah. Rumah merupakan tempat sosialisasi dan interaksi diantara anggota keluarga yang menghuninya.
Ilustrasi keluarga. Sumber gambar: pngtree (pinterest)
Rumah biasanya dihuni oleh
keluarga inti (nuclear family) yang terdiri dari ayah, ibu dan anak-anak,
meskipun kadangkala ada anggota keluarga lain yang ikut serta menghuni rumah
yang kita tinggali, seperti orangtua, adik, kakak atau kerabat lainnya
(extended family).
Suasana di rumah sangat
berpengaruh pada motif interaksi para anggota keluarga dan yang terpenting
adalah sarana edukasi bagi anak. Di sinilah anak mulai belajar tentang segala
sesuatu dan hal-hal yang dijadikan bekal untuk bersosialisasi di luar rumah.
Sejak lahir ke dunia, hal pertama
yang dikenali anak adalah anggota keluarga yang menyambutnya, terutama
orangtuanya, khususnya ibu. Interaksi antara si bayi dan anggota keluarga lain
adalah belajar pertama yang dilakukan. Oleh karena itu, interaksi positif yang
diterima sebagai sarana edukasi anak sangat berpengaruh terhadap kualitas
karakter anak di masa-masa mendatang.
Di dalam lingkungan keluarga,
anak mulai belajar berkomunikasi, mulai belajar mengenal nama-nama benda, mulai
mengenal cara berinteraksi dan bersosialisasi dengan anggota keluarga yang
lain, mulai mengenal pendidikan agama, belajar berhitung dan bernyanyi pun
dimulai dari lingkungan keluarga di rumah.
Di lingkungan keluarga pula anak
pertama kali dikenalkan tentang norma, etika, tata krama, sopan santun dan
aturan-aturan normatif lainnya.
Selain itu di dalam lingkungan
keluarga juga anak belajar pertama kali tentang nilai kerjasama, cara menyelesaikan
masalah dan konflik yang terjadi diantara anggota keluarga lain, juga soal
pengendalian emosi, meskipun dalam skala yang sederhana misalnya perselisihan
antara kakak dengan adik mengenai pilihan permainan atau siapa yang lebih dulu
mandi dan lain sebagainya.
Dari lingkungan keluarga atau
lingkungan rumah akan terbentuk karakter seseorang. Bisa kita lihat, apabila lingkungan
keluarga di rumah membentuk karakter positif maka anak akan berperilaku positif
di lingkungan sosial. Demikian pula sebaliknya, bila lingkungan keluarga di
rumah menciptakan suasana negatif maka anak akan melakukan penyimpangan karakter
yang bersifat negatif di lingkungan sosial.
Karena pentingnya peran keluarga
di lingkungan rumah, khususnya orangtua dalam membentuk karakter seorang anak,
maka sangat disarankan agar orangtua menanamkan pola didik yang baik dan positif
terhadap anak di lingkungan rumah. Disamping itu dan yang terpenting adalah
sikap dan interaksi diantara anggota keluarga yang terjalin dengan baik dan
harmonis akan sangat berpengaruh terhadap sikap dan interaksi anak saat
berinteraksi dengan orang-orang dan lingkungan sosial di luar rumah.
Dengan kata lain, karakter
seseorang di dalam lingkungan sosial sangat tergantung dari pola pendidikan
yang ia dapatkan di dalam lingkungan keluarga atau lingkungan di dalam rumah.
Maka jadikanlah rumah sebagai tempat terindah dan tempat edukasi yang positif
bagi anak-anak kita.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar