Senin, 02 November 2020

"Problematika Bersekolah di Masa Pandemi Covid-19"

Pandemi covid-19 menciptakan dampak yang signifikan dalam tatanan kehidupan masyarakat, termasuk dalam bidang pendidikan. Masyarakat mau tak mau harus beradaptasi dengan situasi baru yang direkayasa sedemikian rupa untuk melindungi diri dari bahaya penyebaran virus corona yang belum juga beranjak hilang dari muka bumi ini.

Berbagai fasilitas sosial sudah mulai dibuka sejak awal Juli 2020. Tempat ibadah, pasar tradisional dan pasar modern, tempat wisata dan perusahaan-perusahaan tempat banyak orang bekerja yang selama beberapa bulan di masa pandemi ini dirumahkan sudah mulai beraktifitas kembali. Sarana transportasi umum pun sudah mulai beroperasi kembali. Namun sekolah yang merupakan sarana pendidikan belum kunjung dibuka kembali dengan alasan masih riskannya kondisi kesehatan para pelajar dan mahasiswa atas dampak penyebaran covid-19 tersebut.

Memang cukup ironis, sementara fasilitas publik yang lain sudah mulai dibuka kembali, sedangkan fasilitas pendidikan masih tertutup untuk aktifitas bersekolah. Para pelajar dan mahasiswa masih harus melaksanakan belajar secara daring dari rumah (BdR) atau pembelajaran jarak jauh (PJJ). Hal ini tentu saja memunculkan persoalan yang cukup dilematis.

Banyak faktor yang menjadi hambatan dalam pelaksanaan pembelajaran jarak jauh secara daring di Indonesia. Kondisi ekonomi masyarakat yang beragam merupakan salah satu faktor terbesar yang menghambat kelancaran program pendidikan secara daring tersebut. Disamping faktor penyediaan fasilitas teknologi yang kurang memadai.

Keterpurukan ekonomi masyarakat akibat pandemi covid-19 mengakibatkan munculnya persoalan baru atas ketersediaan fasilitas pendidikan sistem daring. Belajar dari rumah dengan menggunakan internet membutuhkan sarana yang sarat finansial. Tersedianya telepon pintar (smartphone) atau pun laptop, paket internet yang harus selalu terisi mengharuskan para orangtua menyisihkan sebagian penghasilannya (yang bagi sebagian orang belum stabil akibat dampak pandemi) untuk keperluan sekolah daring tersebut. 

Disamping persoalan teknis dan materiil seperti tersebut di atas, ada hal yang tak kalah penting untuk diperhatikan sebagai dampak pandemi ini. Cara belajar anak secara mandiri tanpa bimbingan guru sekolah (khususnya bagi pelajar SD) menimbulkan persoalan tersendiri bagi para orangtua. Di masa pandemi ini, orangtua dituntut untuk menjadi "guru dadakan" untuk membimbing dan mengajarkan pelajaran bagi anak-anak mereka.

Sementara orangtua, khususnya ibu, yang harus membagi waktu antara menyelesaikan pekerjaannya dengan meluangkan waktu untuk mengajar anak-anaknya. Selain itu seringkali orangtua menghadapi kesulitan atas pelajaran yang kurang dipahami sehingga terjadi misscommunication antara orangtua dan anaknya saat belajar. Seringkali kita dengar informasi anak-anak yang menjadi rewel di saat belajar atau orangtua yang emosional terhadap anaknya karena ketidaksepahaman ataupun kesalahpahaman saat belajar daring. Dalam hal ini, orangtua dituntut untuk menghadapi situasi seperti ini dengan penuh kesabaran dan juga orangtua dituntut untuk memperluas wawasan mengenai materi pelajaran serta teknik belajar bagi anak agar bisa menjadi guru dadakan yang mumpuni.

Bagi para pelajar sekolah menengah dan (terutama) bagi mahasiswa, belajar daring di rumah terasa kurang efektif dan kurang nyaman. Selain terbatasnya interaksi sosial antar teman juga dengan para pengajar, cara belajar yang cenderung teoretis membatasi ruang lingkup pembelajaran dan fasilitas belajar secara praktis, karena bagaimanapun metode praktek sangat dibutuhkan untuk menunjang pembelajaran mereka.

Dengan memperhatikan persoalan-persoalan tersebut, dalam menghadapi situasi pandemi ini, bukan hanya dibutuhkan pemulihan ekonomi semata, namun diperlukan juga pemulihan psikologis sosial bagi seluruh warga masyarakat akibat adaptasi kebiasaan baru yang mau tidak mau harus dihadapi dan diberlakukan.

Dengan demikian, pada saat pandemi ini berlalu dan kebiasaan normal baru sudah teradaptasi, masyarakat pun pulih dan dapat beraktifitas dengan normal tanpa menjadikan persoalan-persoalan tersebut sebagai suatu permasalahan dan menyikapinya dengan lebih bijak dan lebih baik.

1 komentar: