Itulah kata-kata pertama yang biasanya mengawali curhatan di buku harian pribadi atau diary.
Bagi sebagian orang, khususnya remaja putri, buku harian atau diary bagaikan teman ataupun sahabat yang bisa menjadi wadah untuk berbagi cerita tentang segala kegiatan yang kita lakukan sehari-hari, mencurahkan isi hati maupun melampiaskan keluh-kesah atau unek-unek yang sedang dirasakan. Ia adalah tempat curhat saat bahagia, jatuh cinta, sedih, kecewa, bosan, kesal bahkan marah.
Walaupun curhat di buku harian tidak ada respon balik karena memang ia hanyalah sebuah buku, namun dengan mencurahkan segala isi hati dalam bentuk tulisan akan mempunyai kepuasan tersendiri serta merasa lega karena perasaan apapun bisa tecurahkan tanpa ada batasan karena apa yang dituliskan merupakan kejujuran yang murni dari hati yang paling dalam.
Selain membuat beban perasaan menjadi lega setelah menulis di buku diary, satu alasan lain untuk menulis di diary adalah apapun yang tengah kita rasakan lebih terjamin kerahasiaannya dibandingkan curhat kepada orang lain. Tentu saja seperti itu, karena apapun yang kita curhatkan hanya kita sendirilah yang tahu, diary hanyalah sebagai saksi bisu atas segala rahasia yang kita tuliskan.
Pada masa dahulu (semasa saya masih remaja) kiranya sebagian besar remaja putri memiliki diary. Meskipun umumnya memiliki teman atau sahabat nyata, namun ada kalanya kita hanya ingin menyimpan perasaan kita sendiri dan membaginya hanya dengan diary kita.
Pada masa kini, walau masih ada yang berbagi cerita dengan diary, banyak orang yang sudah mulai enggan menulis di diary dan lebih memilih untuk berbagi cerita ataupun curhat di media sosial pada gadgetnya. Alasannya, tentu saja agar mendapatkan respon dari orang lain atas apa yang dicurhatkannya. Meskipun hanya sekedar respon berupa like atau tanda acungan jempol, maupun respon berupa komentar dari orang lain. Hal tersebut sudah membuatnya merasa diakui, disukai, diperhatikan atau dipedulikan oleh orang lain. Dengan kata lain, validasi dari orang lain di media sosial sudah membuatnya cukup terpuaskan. Meskipun tidak jarang curhatan seseorang di media sosial mendapat respon negatif, menjadi bahan perdebatan diantara para netizen, menuai cacian bahkan hujatan. Bukan tidak mungkin pula apa yang ditulis di media sosial menjadi awal terjadinya perundungan (bullying).
Berbeda sekali dengan curhat di diary yang terjaga kerahasiaannya dan bisa dengan bebasnya melepaskan segala curahan isi hati dan pikiran kita, curhat di media sosial tentu saja membatasi isi hati kita karena apa yang kita tulis akan terbaca oleh banyak orang, bahkan orang yang tidak kita kenal dan tidak mengenal diri kita, sehingga kita harus berhati-hati dalam menuliskan curhatan kita dan juga mempertimbangkan konsekuensi yang akan kita terima atas apa yang kita tulis di media sosial.
Curhat di diary atau di media sosial merupakan pilihan masing-masing individu. Bagi saya pribadi, menulis curahan hati di diary lebih mengasyikkan daripada curhat di media sosial. Selain karena bisa mencurahkan segalanya dengan sesuka hati kita, menulis di diary juga bisa melatih diri serta mengasah kemampuan dan keterampilan kita dalam hal menulis.
Dengan menulis di diary, kita terbiasa untuk jujur kepada diri sendiri. Disamping itu, seringnya menulis di diary membuat kita terlatih untuk merangkai kata demi kata menjadi sebuah tulisan, bisa berupa jurnal, cerita pendek, artikel bahkan bisa juga menulis sebuah buku.
Bukan tidak mungkin, berawal dari menulis diary, kita bisa berpotensi untuk menjadi seorang penulis profesional. Ayo kita mulai menulis di diary, siapa tahu di kemudian hari kita bisa memperoleh penghasilan juga dari tulisan-tulisan kita.
Selamat menulis...
Tidak ada komentar:
Posting Komentar